Ketegangan geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, dinilai berpotensi memengaruhi tarif layanan internet di Indonesia. Dampak tersebut terutama terkait industri telekomunikasi yang masih bergantung pada sebagian komponen jaringan impor, sehingga perubahan nilai tukar dapat berimbas pada biaya investasi dan operasional.
Group Head Corporate Communications and Sustainability XL Smart, Reza Mirza, menjelaskan pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban biaya perusahaan ketika pengadaan perangkat dan komponen jaringan dilakukan dalam mata uang asing. Pada Selasa (17/3), nilai tukar rupiah tercatat mencapai Rp 16.996 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.
Menurut Reza, kenaikan beban biaya akibat pergerakan kurs bisa ditanggung perusahaan atau berpotensi diteruskan ke konsumen melalui penyesuaian tarif layanan, termasuk tarif internet. Namun, ia menyebut XL Smart telah menyiapkan langkah mitigasi untuk mengelola volatilitas biaya tanpa membebankannya kepada pelanggan.
Ia mengatakan pergerakan nilai tukar menjadi salah satu faktor yang dipantau secara berkala, khususnya dalam perencanaan investasi jaringan. Upaya yang dilakukan antara lain perencanaan pengadaan jangka panjang, diversifikasi vendor, serta efisiensi operasional guna menjaga stabilitas biaya investasi jaringan.
“Ini seperti perencanaan pengadaan jangka panjang, diversifikasi vendor, serta efisiensi operasional, untuk menjaga stabilitas biaya investasi jaringan,” kata Reza kepada Katadata.co.id, Selasa (17/3).
Dengan pendekatan tersebut, Reza menyampaikan fluktuasi jangka pendek pada nilai tukar pada umumnya masih dapat dikelola sehingga dampak pelemahan rupiah tidak dibebankan kepada pelanggan. Ia menegaskan fokus industri tetap menjaga kualitas layanan dan memastikan layanan data tetap terjangkau bagi masyarakat.
Reza juga menambahkan bahwa dampak pelemahan rupiah dapat berbeda pada tiap operator, bergantung pada sejumlah faktor lain, seperti struktur kontrak dengan vendor, waktu pengadaan perangkat, serta strategi efisiensi yang diterapkan. Secara umum, ia menyebut perusahaan memiliki mekanisme perencanaan dan pengelolaan biaya untuk mengantisipasi volatilitas pasar agar operasional dan pengembangan jaringan tetap berjalan berkelanjutan.