Pemerataan akses internet kerap dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi. Untuk mendorong hal tersebut, ketersediaan infrastruktur yang memadai serta tarif internet yang terjangkau menjadi faktor penting bagi masyarakat.
Berdasarkan laporan Global Broadband Price League 2026, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan harga internet relatif murah. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menempati peringkat kedua untuk tarif internet tetap (fixed broadband) termurah, dengan harga rata-rata US$10,66 (Rp183.000) per bulan.
Posisi Indonesia hanya berada di bawah Vietnam, yang mencatat rata-rata tarif fixed broadband sebesar US$10,24 (Rp175.000) per bulan. Sementara itu, sejumlah negara Asia Tenggara lain memasang tarif yang lebih tinggi, seperti Myanmar sebesar US$20,12 (Rp345.000), Kamboja US$30 (Rp515.000), Singapura US$30,74 (Rp528.000), Filipina US$34,16 (Rp586.000), dan Malaysia US$37,98 (Rp652.000) per bulan.
Secara global, Indonesia berada di posisi ke-12 dalam daftar negara dengan tarif internet termurah. Vietnam menempati posisi ke-11. Adapun negara-negara Asia Tenggara lain berada pada peringkat yang lebih rendah: Myanmar (36), Kamboja (64), Singapura (67), Filipina (78), dan Malaysia (87).
Dalam daftar lima besar negara dengan tarif internet termurah di dunia, Iran menempati peringkat pertama. Laporan tersebut menyebutkan, salah satu faktor yang membuat tarif internet Iran tampak jauh lebih murah adalah lemahnya nilai tukar real terhadap dolar AS. Infrastruktur internet di negara itu juga disebut sangat didukung subsidi pemerintah, yang turut menopang Jaringan Informasi Nasional (NIN), yakni intranet yang dikendalikan negara secara mandiri dan beroperasi terpisah dari internet global.
Rata-rata tarif internet bulanan di Iran tercatat US$2,61 atau sekitar Rp44.000 per bulan. Peringkat kedua ditempati Ukraina dengan tarif rata-rata US$5,35 (Rp91.000). Selanjutnya, Ethiopia berada di urutan ketiga (US$6,46), Bangladesh keempat (US$7,38), dan Mongolia kelima (US$7,41).