BERITA TERKINI
Warga Iran Ceritakan Ketegangan Saat Serangan AS-Israel Berlanjut: Internet Diputus, Ledakan Mengguncang Rumah

Warga Iran Ceritakan Ketegangan Saat Serangan AS-Israel Berlanjut: Internet Diputus, Ledakan Mengguncang Rumah

Warga di berbagai wilayah Iran mulai menceritakan pengalaman mereka di tengah serangan Amerika Serikat dan Israel yang terus menghantam sejumlah target di negara itu. Serangan yang disebut dimulai pada Sabtu pagi, disertai kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, disebut mengguncang situasi di dalam negeri—baik di kalangan pendukung maupun penentang pemerintah.

Sejak saat itu, sejumlah lokasi yang digambarkan sebagai situs militer dan strategis dilaporkan terus menjadi sasaran serangan siang dan malam. Di tengah kondisi tersebut, otoritas setempat memutus akses internet sehingga warga kesulitan berkomunikasi dengan dunia luar. Meski pembatasan diberlakukan, BBC melaporkan berhasil mewawancarai beberapa orang dengan identitas yang disamarkan demi alasan keselamatan.

Kesaksian dari Karaj: “Rumah Kami Bergetar”

Hossein, warga Karaj di sebelah barat Teheran, menceritakan adanya ledakan besar di dekat rumahnya pada Senin. Ia mengatakan serangan di wilayahnya terasa sangat kuat hingga membuat rumahnya bergetar.

“Mereka menghantam Karaj begitu keras hingga rumah saya bergetar. Saya mendengar ledakan dahsyat dan sekarang saya hanya mencoba mencari tempat yang aman,” kata Hossein. Ia menambahkan, serangan tersebut terjadi setelah malam yang menurutnya diwarnai pengeboman sangat intens.

Hossein mengaku menghitung ada 17 ledakan berturut-turut. Menurut dia, warga menunggu dengan cemas perkembangan berikutnya, dengan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat bisa saja membuat kesepakatan dengan kepemimpinan Iran lalu mundur.

Ia juga menggambarkan situasi di jalanan. Hossein mengatakan pada malam sebelumnya banyak pendukung pemerintah turun ke jalan, namun ia melihat kemarahan di wajah mereka. Ia menuturkan pasukan keamanan berpatroli pada malam hari untuk menakuti warga, sementara antrean terlihat di toko roti dan pom bensin. Pada saat yang sama, jalanan disebut sepi karena banyak orang memilih bertahan di rumah.

Hossein menyebut pemutusan internet yang terjadi untuk ketiga kalinya tahun ini memicu kemarahan warga.

Perpecahan yang Kian Dalam

Hossein menilai Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) masih memiliki kekuatan di lapangan, dan hal itu menjadi sumber ketakutan. Ia juga berpendapat bahwa kabar kematian Khamenei serta peran pemimpin tersebut dalam peristiwa protes baru-baru ini telah memperlebar jarak antara pendukung dan penentang pemerintah.

Sementara itu, Amir, warga Teheran, mengatakan masyarakat mulai menimbun kebutuhan pokok. “Orang-orang belanja dan menyimpan bahan makanan sebanyak mungkin. Kami semua duduk di rumah sambil mendengarkan suara ledakan. Tapi, ya, kami terisolasi dari dunia luar,” ujarnya.

Amir menilai situasi ke depan sangat bergantung pada seberapa banyak tokoh kunci yang tewas. Ia juga menyebut adanya banyak pos keamanan di sekitar kota yang menghentikan orang-orang yang dianggap mencurigakan. Amir membandingkan kondisi saat ini dengan perang 12 hari dengan Israel pada Juni lalu, seraya mengatakan warga merasa lelah. Ia menambahkan bahwa menurutnya kematian Khamenei tidak cukup dan menyampaikan penolakan terhadap rezim yang berkuasa.