Tren kecerdasan buatan (AI) di smartphone kian ramai sepanjang 2026. Fitur yang sebelumnya identik dengan ponsel flagship berharga tinggi kini mulai hadir di kelas entry level dengan banderol lebih terjangkau.
Sejumlah label seperti AI Camera, AI Portrait, hingga AI Battery semakin mudah ditemukan pada berbagai merek ponsel murah. Namun, berdasarkan pantauan, tidak semua fitur AI tersebut bekerja secanggih yang dibayangkan pengguna.
Salah satu pembeda utama terletak pada dukungan perangkat keras. Fitur AI yang benar-benar canggih umumnya membutuhkan komponen khusus bernama Neural Processing Unit (NPU). Komponen ini biasanya tersedia pada chipset kelas flagship atau setidaknya kelas menengah premium, dan berfungsi mempercepat pemrosesan AI langsung di perangkat tanpa bergantung pada internet.
Di sisi lain, banyak ponsel murah berlabel AI disebut hanya mengandalkan algoritma sederhana atau sistem berbasis cloud. Dampaknya, fitur AI bisa terasa lambat dan kurang responsif. Pada beberapa kasus, fitur AI Camera justru menghasilkan foto yang terlihat terlalu tajam, warna berlebihan, atau detail yang kurang natural—berbeda dengan ponsel premium yang mampu memproses AI secara real time langsung di perangkat.
Selain soal kemampuan AI, aspek perangkat keras lain juga berisiko menjadi “korban” demi menjaga harga tetap rendah. Produsen kerap menjadikan fitur AI sebagai daya tarik utama agar terlihat modern, tetapi memangkas kualitas komponen penting. Contohnya layar dengan kualitas standar, baterai yang cepat panas, atau chipset yang kurang bertenaga untuk multitasking.
Ada pula kasus ponsel yang mengusung fitur AI Battery tetapi performa prosesornya sendiri boros daya. Akibatnya, pengalaman penggunaan sehari-hari tetap kurang nyaman. Berdasarkan pantauan, banyak konsumen akhirnya lebih sering memakai fitur dasar ketimbang fitur AI yang dipromosikan besar-besaran.
Isu lain yang turut disorot adalah risiko privasi data. Sejumlah fitur AI pada ponsel murah bekerja melalui sistem cloud, sehingga data seperti foto, suara, atau teks yang dimasukkan pengguna dikirim ke server untuk diproses. Jika sistem keamanan vendor kurang kuat, potensi kebocoran data menjadi risiko tersendiri.
Masalahnya, tidak semua vendor menjelaskan secara transparan data apa saja yang dikumpulkan dari pengguna. Padahal, privasi digital semakin penting di era AI.
Karena itu, konsumen diimbau tidak hanya terpaku pada label AI saat memilih ponsel. Faktor seperti chipset, layar, baterai, kamera, serta kestabilan sistem operasi tetap menjadi pertimbangan utama untuk pemakaian jangka panjang. Berdasarkan pantauan, ponsel dengan performa stabil kerap lebih nyaman digunakan dibanding ponsel murah dengan banyak fitur AI yang belum matang.