BERITA TERKINI
Indosat: Ancaman Penipuan Berbasis AI dan Deepfake Meningkat, Kesiapan Siber Perusahaan Dinilai Tertinggal

Indosat: Ancaman Penipuan Berbasis AI dan Deepfake Meningkat, Kesiapan Siber Perusahaan Dinilai Tertinggal

Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business merilis whitepaper yang menyoroti lonjakan ancaman keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Ancaman seperti AI fraud, deepfake, hingga ransomware disebut kian serius dan semakin sulit dideteksi seiring percepatan transformasi digital.

Whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience itu disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim. Dokumen tersebut menekankan adanya “resilience gap”, yakni kondisi ketika laju transformasi digital berkembang lebih cepat dibanding kesiapan perusahaan dalam membangun sistem keamanan siber yang kuat.

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah, mengatakan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia perlu diimbangi dengan ketahanan siber yang memadai. “Cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tetapi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ujar Buldansyah di Jakarta, Senin (12/5/2026).

Menurut Buldansyah, kebutuhan perusahaan saat ini tidak hanya sebatas konektivitas internet dan teknologi digital, tetapi juga kemampuan menghadapi ancaman siber modern yang terus berkembang. Ia menilai perusahaan membutuhkan pendekatan keamanan yang lebih strategis, adaptif, dan terintegrasi dalam menghadapi era AI. “Kami melihat kebutuhan akan pendekatan keamanan siber yang lebih strategis dan adaptif semakin mendesak,” katanya.

Dalam whitepaper tersebut, Indosat juga mengungkap peningkatan penipuan terkait AI di sektor fintech Indonesia yang disebut mencapai 1.550 persen. Bentuk ancaman yang disorot mencakup penggunaan teknologi deepfake serta AI voice impersonation untuk penipuan identitas digital.

Charles Lim menilai perkembangan ancaman siber bergerak lebih cepat dibanding kemampuan banyak organisasi dalam mendeteksinya. “Ancaman siber berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi, terutama dengan munculnya AI-enabled fraud dan deepfake,” ujarnya.

Di sisi lain, tingkat kesiapan perusahaan di Indonesia menghadapi ancaman siber modern masih menjadi perhatian. Mengacu pada penilaian Cisco tahun 2025, hanya 11 persen perusahaan di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman siber modern.