BERITA TERKINI
Ketua Umum ASSI: Indonesia Perlu Memperkuat Kedaulatan Teknologi Satelit di Era AI

Ketua Umum ASSI: Indonesia Perlu Memperkuat Kedaulatan Teknologi Satelit di Era AI

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Risdianto Yuli Hermansyah menegaskan teknologi satelit kini menjadi infrastruktur strategis yang tak terpisahkan dari masa depan konektivitas serta kedaulatan digital Indonesia. Menurutnya, satelit bukan lagi sekadar pelengkap telekomunikasi, melainkan kebutuhan untuk memastikan konektivitas nasional berjalan menyeluruh, terutama di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Pernyataan itu disampaikan Risdianto saat membuka Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Ia menyebut APSAT 2026 sebagai tonggak penting karena merupakan penyelenggaraan ke-22 sejak konferensi tersebut pertama kali digelar lebih dari dua dekade lalu.

“APSAT telah berkembang dari forum berskala kecil menjadi salah satu ajang industri satelit paling dikenal di kawasan Asia Pasifik,” ujar Risdianto. Ia juga menjelaskan ASSI didirikan pada 1998 dengan misi mendorong pengembangan industri satelit sekaligus memperkuat komunitas satelit di Indonesia. Selama 27 tahun terakhir, ASSI berupaya menjadikan APSAT sebagai platform strategis untuk memperkuat dialog, membangun kolaborasi, dan menentukan arah pengembangan ekosistem satelit di Indonesia maupun global.

Risdianto menilai kehadiran peserta konferensi—yang terdiri dari perwakilan pemerintah, organisasi internasional, operator satelit, pelaku teknologi, investor, akademisi, hingga pemimpin industri dari sejumlah negara—menunjukkan forum tersebut masih relevan. “Keberadaan seluruh peserta hari ini menjadi bukti bahwa forum ini masih relevan dan menunjukkan adanya komitmen bersama untuk membangun dunia yang lebih terkoneksi,” katanya.

Ia menyoroti tantangan konektivitas Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan lebih dari 17 ribu pulau dan jumlah penduduk melampaui 270 juta jiwa, pemerataan akses digital dinilai tidak mungkin hanya mengandalkan jaringan terestrial. “Teknologi satelit kini bukan lagi sekadar pelengkap infrastruktur telekomunikasi, melainkan kebutuhan strategis untuk mendukung konektivitas nasional secara menyeluruh, terlebih di era AI saat ini,” ucapnya.

Selain untuk konektivitas, ia menyebut satelit berperan dalam menopang pertumbuhan ekonomi, ketahanan nasional, konektivitas maritim, mitigasi bencana, hingga mendorong akses digital yang inklusif bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Risdianto menambahkan peran satelit akan semakin penting seiring langkah Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045. Dalam konteks itu, satelit dipandang sebagai fondasi utama pembangunan digital dan penguatan kedaulatan nasional di era ekonomi berbasis data.

Di sisi lain, ia menyoroti perubahan besar di industri satelit global. Ekspansi sistem konstelasi satelit, pemanfaatan AI dalam operasional satelit, serta integrasi jaringan satelit dengan jaringan terestrial disebutnya tengah mengubah arsitektur konektivitas global secara fundamental.

Menurut Risdianto, perkembangan tersebut membuka peluang besar, namun juga menghadirkan tantangan yang perlu diantisipasi bersama. Sejumlah isu yang menjadi perhatian antara lain keberlanjutan ruang angkasa, kepadatan orbit satelit, keamanan siber, tata kelola data, hingga kedaulatan teknologi.

Ia menekankan bahwa bagi Indonesia, kemampuan menjaga kemandirian dalam infrastruktur satelit, layanan berbasis antariksa, dan tata kelola data merupakan hal penting. “Di dunia yang semakin digital, kedaulatan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga ketahanan nasional dan otonomi strategis,” katanya.

APSAT 2026 mengusung tema “The Future of Satellite Ecosystems: The Importance of Sovereignty, AI, Innovation, and Technological Integration”. Risdianto menyebut tema tersebut sebagai seruan bagi pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem satelit yang inovatif, berkelanjutan, dan berdaulat. Ia mengajak pemerintah, pelaku industri, institusi riset, hingga mitra internasional untuk berpikir lebih strategis dan bergerak lebih cepat menghadapi dinamika industri.

Konferensi yang berlangsung selama dua hari, 12–13 Mei 2026, di Fairmont Jakarta itu dijadwalkan diisi diskusi panel dan presentasi pembicara internasional mengenai perkembangan terbaru di sektor satelit dan teknologi antariksa. Risdianto berharap forum tersebut menjadi sarana pertukaran wawasan sekaligus membuka peluang kerja sama baru antar pelaku industri.