Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali melanda industri teknologi global pada 2026. Dalam lima bulan pertama tahun ini, sekitar 92.000 pekerja teknologi dilaporkan kehilangan pekerjaan seiring semakin agresifnya perusahaan mengadopsi kecerdasan buatan (AI) untuk mendorong efisiensi bisnis.
Sejumlah raksasa teknologi seperti Meta, Microsoft, Amazon, Oracle, hingga Salesforce tercatat memangkas ribuan pekerja. Berbeda dari gelombang PHK pada periode sebelumnya yang kerap dikaitkan dengan tekanan ekonomi, pengurangan tenaga kerja kali ini disebut lebih dipengaruhi transformasi menuju otomatisasi berbasis AI.
Jika dihitung sejak 2020, total pekerja teknologi yang terdampak PHK secara global kini mendekati 900.000 orang.
Meta menjadi salah satu perusahaan terbaru yang melakukan pengurangan tenaga kerja. Perusahaan induk Facebook dan Instagram itu disebut akan memangkas sekitar 8.000 pekerja atau sekitar 10% dari total karyawannya mulai 20 Mei 2026. Selain itu, Meta juga membekukan perekrutan untuk sekitar 6.000 posisi yang sebelumnya masih terbuka.
Microsoft juga mengambil langkah serupa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan selama 51 tahun, Microsoft menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 7% karyawan di Amerika Serikat atau sekitar 8.750 pekerja.
Amazon lebih dulu melakukan PHK terhadap sekitar 16.000 pekerja pada awal 2026. Langkah pengurangan tenaga kerja juga dilaporkan terjadi di sejumlah perusahaan lain seperti Nike, Snap, Oracle, GoPro, hingga Salesforce.
Alasan yang mengemuka dari berbagai perusahaan relatif serupa, yakni efisiensi berbasis AI serta penyesuaian setelah perekrutan besar-besaran pada masa pandemi Covid-19.
Namun, para ekonom menilai situasi kali ini memiliki karakter berbeda dibanding gelombang PHK sebelumnya. Muncul kekhawatiran bahwa dunia kerja sedang memasuki perubahan permanen, seiring perkembangan AI generatif seperti ChatGPT dan Claude.
AI dinilai mulai mampu mengotomatisasi beragam fungsi bisnis yang sebelumnya membutuhkan banyak pekerja manusia, mulai dari administrasi, layanan pelanggan, analisis data, hingga pengolahan dokumen. Mantan pemimpin AI sekaligus executive coach, Anthony Tuggle, menyebut kondisi ini sebagai awal transformasi permanen dunia kerja modern.
“Kita sedang menyaksikan awal dari transformasi permanen dalam cara pekerjaan diorganisasi dan dijalankan di berbagai industri,” ujarnya.
Kecemasan pekerja teknologi pun dilaporkan meningkat. Data Glassdoor menunjukkan indeks kepercayaan pekerja sektor teknologi turun 6,8 poin menjadi 47,2% pada Maret 2026 dibanding tahun sebelumnya. Di tengah ketidakpastian, sebagian pekerja memilih bertahan meski tidak puas karena khawatir sulit memperoleh pekerjaan baru saat otomatisasi semakin meluas.
Di sisi lain, perusahaan teknologi justru terus meningkatkan investasi AI di tengah PHK massal. Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon diperkirakan menggelontorkan hampir US$700 miliar atau sekitar Rp11.900 triliun sepanjang 2026 untuk membangun infrastruktur AI dan memenuhi lonjakan permintaan layanan kecerdasan buatan. Analis menilai perusahaan-perusahaan tersebut tengah melakukan reorganisasi besar untuk meningkatkan efisiensi operasional dan arus kas.
Perubahan juga terlihat di ekosistem startup Silicon Valley. Banyak perusahaan rintisan disebut bisa berkembang lebih cepat dengan jumlah pekerja lebih sedikit berkat bantuan AI. Investor modal ventura melaporkan startup kini dapat menghasilkan pendapatan hingga US$50 juta hanya dengan sekitar 50 karyawan. Sebelumnya, perusahaan dengan skala serupa biasanya membutuhkan sekitar 250 pekerja.
Fenomena ini memunculkan istilah “unicorn 50 orang”, yakni startup bernilai sangat tinggi dengan tim kecil yang sangat efisien.
Bagi pekerja, situasi tersebut menjadi sinyal untuk meningkatkan keterampilan yang dinilai lebih sulit digantikan AI, seperti kreativitas, pemecahan masalah kompleks, komunikasi, serta kemampuan strategis. Sementara bagi pelaku usaha, perkembangan AI dipandang membuka peluang membangun bisnis besar dengan tim lebih ramping dan biaya operasional lebih rendah.
Satu hal yang mulai terlihat jelas, era perekrutan besar-besaran di perusahaan teknologi dinilai kian meredup. AI perlahan mengubah wajah industri dan cara manusia bekerja secara lebih permanen.