BERITA TERKINI
The Magic Faraway Tree: Petualangan Keluarga di Dunia Tanpa Internet

The Magic Faraway Tree: Petualangan Keluarga di Dunia Tanpa Internet

JAKARTA – Bagaimana jadinya ketika rutinitas yang selama ini ditopang internet, listrik, dan layar mendadak hilang? Premis itu menjadi titik awal The Magic Faraway Tree, film fantasi keluarga yang membawa kebosanan menjadi pintu menuju petualangan imajinatif, sekaligus menyelipkan refleksi tentang keluarga, adaptasi, dan relasi manusia dengan dunia digital.

Cerita berfokus pada keluarga Thompson yang memutuskan meninggalkan kehidupan modern dan pindah ke perdesaan. Perubahan itu tidak mudah bagi anak-anak mereka. Tanpa gadget dan distraksi digital, hari-hari yang awalnya terasa kosong memunculkan kejenuhan, sekaligus memperlihatkan betapa besar ketergantungan pada teknologi dalam keseharian.

Alur kemudian bergerak ketika Fran menemukan sebuah pohon misterius yang menjadi akses ke dunia lain. Bersama Beth dan Joe, ia memasuki ruang fantasi yang terus berubah dan menghadirkan kejutan dari satu lapisan dunia ke lapisan berikutnya. Rangkaian petualangan itu dirancang untuk menjaga rasa ingin tahu penonton tetap hidup.

Salah satu kekuatan film ini terletak pada atmosfernya. Visual yang cerah, dunia fantasi yang kaya detail, serta karakter-karakter eksentrik seperti Silky, Moonface, dan Saucepan Man memberi energi yang konsisten sepanjang cerita. Alih-alih membangun konflik berskala besar, film ini mengandalkan pesona dunia yang menyenangkan untuk dijelajahi.

Meski tampil sebagai tontonan keluarga yang ringan, The Magic Faraway Tree tetap menyentuh tema yang terasa dekat dengan kehidupan modern. Ketergantungan pada teknologi, perubahan gaya hidup, dan upaya membangun kembali kedekatan keluarga menjadi lapisan yang memperkaya cerita.

Konflik yang muncul juga dijaga tetap proporsional. Ketegangan sempat meningkat ketika keputusan Beth memicu masalah yang membuat mereka harus kembali ke pohon, namun porsinya tidak menggeser nada film yang hangat. Ritme pun tetap terjaga dan mudah diikuti, terutama bagi penonton keluarga.

Sebagai adaptasi dari karya klasik Enid Blyton, film ini tidak mencoba menjadi fantasi epik yang rumit. Sutradara Ben Gregor memilih pendekatan sederhana dengan fokus pada pengalaman menonton yang nyaman, menyenangkan, dan penuh imajinasi—sebuah pilihan yang membuat film terasa selaras dengan target penontonnya.

Di tengah tren film keluarga yang kerap menonjolkan skala besar dan drama kompleks, The Magic Faraway Tree tampil menonjol lewat kesederhanaannya. Film ini mungkin tidak mengejar dampak emosional yang sangat dalam, tetapi menawarkan kehangatan dan kesenangan yang tulus.

Mulai tayang di bioskop pada 17 April 2026, The Magic Faraway Tree hadir sebagai pilihan bagi penonton yang ingin menikmati petualangan fantasi tanpa beban cerita rumit. Ringan, hangat, dan relevan dengan kehidupan modern, film ini dapat menjadi tontonan bersama keluarga.