Taylor Swift mengambil langkah hukum untuk melindungi identitasnya di tengah meningkatnya konten berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu meniru suara dan wajah seseorang. Melalui perusahaan miliknya, TAS Rights Management, Swift mengajukan permohonan merek dagang ke Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat (US Patent and Trademark Office) pada 24 April 2026.
Permohonan itu mencakup tiga elemen utama yang ingin dilindungi. Dua di antaranya berupa rekaman suara Swift yang mengucapkan kalimat “Hey, it’s Taylor Swift” dan “Hey, it’s Taylor”. Kedua cuplikan tersebut dikenal luas karena digunakan dalam klip yang ia rekam untuk Spotify dan Amazon Music guna mempromosikan albumnya The Life of a Showgirl pada Oktober 2025.
Selain suara, Swift juga mengajukan perlindungan untuk elemen visual berupa foto dirinya saat memegang gitar berwarna pink dan mengenakan outfit berkilau di atas panggung. Foto itu diambil pada sesi pembuka konser Eras Tour, tepatnya pada era album Lover.
Langkah mendaftarkan suara dan tampilan visual sebagai merek dagang dinilai tidak lazim jika dibandingkan praktik perlindungan merek pada umumnya, yang biasanya berfokus pada logo atau nama brand. Namun, perkembangan AI membuat batas perlindungan identitas kian bergeser karena teknologi memungkinkan pembuatan tiruan suara maupun wajah yang sangat mirip dengan aslinya dan sulit dibedakan.
Swift disebut telah beberapa kali menjadi sasaran penggunaan identitas tanpa izin dalam konten AI, mulai dari chatbot hingga gambar manipulatif yang beredar luas di internet. Namanya juga sempat terseret ke ranah politik ketika muncul gambar AI yang seolah-olah menunjukkan dukungan terhadap Donald Trump, meski hal itu tidak sesuai kenyataan.
Kondisi tersebut mendorong munculnya strategi yang kerap disebut “trademark yourself”, yakni mendaftarkan elemen identitas pribadi sebagai merek dagang untuk memperkuat dasar hukum dalam menindak penyalahgunaan, termasuk yang dihasilkan oleh AI.
Pendekatan serupa sebelumnya juga dilakukan aktor Matthew McConaughey, yang memperoleh perlindungan hukum atas suara khasnya, termasuk dialog ikonik “Alright, alright, alright!” dari film Dazed and Confused.
Dengan status sebagai merek dagang, pemilik diharapkan memiliki landasan hukum tambahan untuk menindak penggunaan identitas tanpa izin, terutama ketika teknologi AI semakin memudahkan pembuatan konten tiruan yang menyerupai figur publik.