BERITA TERKINI
Studi: Pencarian Informasi Bergeser ke AI, Brand Berisiko Tak Masuk Pertimbangan Konsumen

Studi: Pencarian Informasi Bergeser ke AI, Brand Berisiko Tak Masuk Pertimbangan Konsumen

Perilaku konsumen dalam mencari informasi digital disebut mulai berubah. Jika sebelumnya mesin telusur seperti Google menjadi titik awal utama, kini sebagian pengguna justru memulai pencarian dari kecerdasan buatan (AI).

Studi yang dikutip Search Engine Land menyebut sekitar 37 persen konsumen kini mengawali pencarian mereka melalui AI. Perubahan titik awal ini menandakan pergeseran dalam perjalanan konsumen saat mencari dan memahami informasi.

Temuan tersebut diperkuat laporan Priority Pixels yang menyatakan 60 persen pengguna menilai jawaban dari AI lebih jelas dibandingkan hasil pencarian tradisional. Ini menunjukkan bukan hanya peningkatan penggunaan, tetapi juga bertambahnya kepercayaan terhadap AI sebagai sumber informasi.

Di sisi lain, pergeseran ini memunculkan risiko baru bagi brand. Dalam sistem AI, pengguna tidak lagi dihadapkan pada banyak pilihan seperti di halaman hasil pencarian. AI akan menyaring dan merangkum informasi, sehingga hanya beberapa brand yang dianggap paling relevan dan kredibel yang muncul dalam ringkasan jawaban.

Alexandro Wibowo, Co-Founder Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI, menilai kondisi itu dapat membuat jumlah brand yang masuk tahap pertimbangan konsumen menjadi lebih sedikit. “Ketika konsumen mulai dari AI, mereka tidak lagi melihat banyak opsi seperti di mesin pencari. Mereka langsung mendapatkan ringkasan. Artinya, brand yang tidak masuk dalam ringkasan tersebut bisa kehilangan peluang bahkan sebelum dipertimbangkan,” ujarnya.

Menurutnya, dampak ini kerap tidak terlihat secara langsung. Sebuah brand bisa tetap aktif, memiliki produk yang bagus, bahkan mendapatkan peringkat tinggi di mesin pencari, namun tetap tidak muncul dalam jawaban AI. Jika hal itu terjadi, peluang bisa hilang sejak tahap awal tanpa ada tanda yang jelas pada indikator performa yang selama ini dipantau.

“Ini yang sering tidak disadari. Brand merasa performanya masih stabil, padahal pelan-pelan mereka mulai tidak masuk dalam percakapan. Dampaknya baru terasa belakangan, saat peluang sudah lewat,” kata Alexandro.

Merespons perubahan tersebut, muncul pendekatan yang disebut AI Visibility Optimization (AVO). Pendekatan ini berfokus pada upaya membangun struktur informasi yang jelas, konsistensi narasi, serta sinyal kredibilitas agar lebih mudah dipahami dan dipercaya oleh sistem AI.

Alexandro menjelaskan bahwa AI tidak hanya mencari informasi, tetapi juga menyusun jawaban dan memilih rujukan yang akan disebut. “AI tidak hanya mencari informasi, tapi juga menyusun jawaban dan memilih. Kalau brand tidak cukup jelas, tidak konsisten, atau tidak punya validasi yang kuat, AI tidak punya alasan untuk menyebutnya,” ujarnya.

Seiring semakin banyak konsumen memulai pencarian dari AI, perusahaan dinilai perlu mengevaluasi kembali strategi visibilitas digital. Persaingan tidak lagi semata soal tampil di hasil pencarian, melainkan soal masuk dalam jawaban yang diterima pengguna. Dalam konteks ini, kehilangan visibilitas disebut bisa terjadi tanpa segera tercermin dalam angka, tetapi terasa saat brand tidak hadir pada momen pengambilan keputusan.