BERITA TERKINI
Simulasi: Jika Potongan Aplikator Ojol Dibatasi 8 Persen, Laba GoTo Berisiko Berbalik Negatif

Simulasi: Jika Potongan Aplikator Ojol Dibatasi 8 Persen, Laba GoTo Berisiko Berbalik Negatif

GoTo Group (GOTO) baru saja mengumumkan capaian laba bersih untuk pertama kalinya sejak perusahaan berdiri. Namun, di tengah momentum tersebut, muncul wacana kebijakan baru yang berpotensi memengaruhi kinerja bisnis layanan on-demand (ODS) perusahaan, termasuk ojek online.

Pada peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2026, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan rencana pembatasan potongan aplikator maksimal 8%. Dengan skema itu, bagi hasil pendapatan untuk mitra ojek online disebut menjadi 92% dari sebelumnya sekitar 80%. Prabowo juga meminta perusahaan aplikasi ojek online memberikan BPJS Kesehatan kepada para mitranya.

Di saat yang sama, Danantara disebut berencana berinvestasi di salah satu saham perusahaan ojek online, termasuk GOTO. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menjelaskan, pembelian saham tersebut dilakukan untuk mendukung implementasi potongan 8%.

Rencana ini juga muncul berdekatan dengan rumor yang menyebut Gojek dan Grab masih dalam proses rencana merger. Namun, data yang tersedia dalam simulasi berikut berfokus pada dampak finansial jika komisi aplikasi ODS benar-benar turun ke 8%.

Risiko terhadap profitabilitas jika take rate turun

Simulasi berbasis data kuartal I 2026 (1Q26) menunjukkan, penurunan fee ODS dari sekitar 20,6% menjadi 8% berpotensi menekan pendapatan ODS secara signifikan. Dalam pendekatan ini, seluruh biaya diasumsikan tetap (statis), sehingga penurunan pendapatan diterjemahkan langsung menjadi penurunan profitabilitas.

Data dasar 1Q26 yang digunakan dalam simulasi meliputi: ODS GTV Rp16,344 triliun, ODS net revenue Rp3,360 triliun, ODS adjusted EBITDA Rp439 miliar, Group adjusted EBITDA Rp907 miliar, serta laba sebelum pajak Rp347 miliar.

Proxy take rate ODS dihitung dari ODS net revenue dibagi ODS GTV, yakni Rp3,360 triliun ÷ Rp16,344 triliun, atau sekitar 20,6%.

Hasil simulasi fee 8%

Jika take rate ODS menjadi 8% dengan asumsi GTV tetap, pendapatan ODS diperkirakan turun menjadi sekitar Rp1,308 triliun (16,344 × 8%). Dengan biaya ODS yang dianggap tidak berubah, ODS adjusted EBITDA diproyeksikan berbalik menjadi sekitar -Rp1,613 triliun.

Pada level grup, adjusted EBITDA diperkirakan berubah dari +Rp907 miliar menjadi sekitar -Rp1,145 triliun. Sementara itu, laba sebelum pajak yang sebelumnya Rp347 miliar dalam simulasi menjadi sekitar -Rp1,705 triliun, jika seluruh biaya grup juga diasumsikan tetap.

Ringkasan perbandingan (Aktual 1Q26 vs simulasi 8%)

Dalam simulasi ini, take rate ODS turun dari 20,6% ke 8,0% (turun 12,6 poin). Pendapatan ODS turun dari Rp3,360 triliun menjadi Rp1,308 triliun (turun Rp2,052 triliun). ODS adjusted EBITDA berubah dari Rp439 miliar menjadi -Rp1,613 triliun. Group adjusted EBITDA dari Rp907 miliar menjadi -Rp1,145 triliun. Laba sebelum pajak dari Rp347 miliar menjadi -Rp1,705 triliun.

Asumsi utama simulasi

Simulasi ini menggunakan pendekatan statis untuk membaca sensitivitas penurunan fee, bukan proyeksi resmi perusahaan. Basis biaya ODS pada level adjusted EBITDA didekati dari revenue ODS dikurangi adjusted EBITDA ODS, yaitu Rp3,360 triliun - Rp439 miliar, atau sekitar Rp2,921 triliun. Dalam simulasi, basis biaya tersebut dianggap tidak berubah.

Apa yang diperlukan agar tetap laba?

Dengan skenario fee 8% dan biaya tetap, kontribusi positif dari segmen lain seperti teknologi keuangan (Fintech adjusted EBITDA Rp364 miliar) dan e-commerce (adjusted EBITDA Rp262 miliar) dinilai belum cukup untuk menutup penurunan kinerja ODS.

Dalam kerangka risiko bisnis yang disorot, kondisi “tetap laba” baru masuk akal jika ada kombinasi efisiensi besar, pertumbuhan volume transaksi, atau perubahan struktur biaya. Di antaranya disebutkan kebutuhan penurunan biaya korporasi, pengurangan beban yang bisa ditekan seperti promo atau diskon, serta dorongan peningkatan pendapatan dari bisnis teknologi keuangan seperti paylater.

Kesimpulannya, bila potongan aplikator ojek online benar-benar dipangkas menjadi 8% tanpa penyesuaian biaya, simulasi menunjukkan profitabilitas ODS dan kinerja grup berpotensi berbalik negatif.