Google Search kini tidak hanya menampilkan daftar tautan, tetapi juga menyajikan ringkasan jawaban melalui fitur Google AI Overview yang muncul di bagian atas hasil pencarian. Sejak Mei 2024, fitur ini merangkum informasi dari sejumlah situs web sehingga pengguna bisa memperoleh jawaban lebih cepat tanpa harus membuka laman satu per satu.
Namun, kemudahan tersebut memunculkan pertanyaan: seberapa akurat ringkasan yang dibuat AI Google? Sejumlah pengguna sebelumnya melaporkan adanya informasi keliru dari AI Overview. Riset terbaru dari perusahaan rintisan riset dan pengembangan AI, Oumi, juga menyimpulkan bahwa fitur ini masih memiliki celah ketidakakuratan.
Secara umum, Oumi menyatakan sembilan dari sepuluh informasi yang disajikan Google AI Overview akurat. Artinya, ada sekitar satu ketidakakuratan dari setiap sepuluh rangkuman yang dihasilkan. Meski terlihat kecil, Oumi menilai risikonya menjadi signifikan jika dikaitkan dengan skala penggunaan Google, yang memproses lebih dari lima triliun pencarian per tahun. Dengan volume sebesar itu, Oumi memperkirakan Google berpotensi memberikan puluhan juta jawaban salah setiap jam atau ratusan ribu informasi tidak akurat tiap menit.
Temuan lain yang disorot Oumi adalah soal kecocokan antara jawaban dan rujukan. Menurut Oumi, lebih dari 50 persen informasi yang dinilai akurat ternyata tidak sesuai dengan referensi yang ditampilkan. Dalam arti, AI Overview mencantumkan situs web sebagai rujukan, tetapi isi situs tersebut tidak sepenuhnya memuat informasi yang disajikan dalam ringkasan.
Dalam risetnya, Oumi menganalisis Google AI Overview menggunakan alat uji benchmark bernama SimpleQA untuk mengukur keakuratan sistem AI. Mereka menguji Gemini—sistem AI yang digunakan AI Overview—dalam dua periode: Oktober tahun lalu menggunakan Gemini 2 dan Februari tahun ini dengan versi lebih canggih, Gemini 3. Dari 4.326 pencarian yang dianalisis, Oumi menemukan tingkat akurasi Gemini 2 sebesar 85 persen, sedangkan Gemini 3 mencapai 91 persen.
Oumi juga memetakan pola ketidakakuratan yang muncul dari hubungan antara jawaban AI Overview dan referensi yang ditautkan. Dalam beberapa kasus, AI Overview menggunakan referensi yang tidak memuat informasi yang diklaim, mengutip sumber yang keliru, atau menghadirkan rujukan dengan informasi yang kontradiktif.
Salah satu contoh yang dipaparkan adalah pertanyaan tentang kapan rumah Bob Marley diubah menjadi museum. AI Overview menyebut tahun 1987, padahal museum tersebut dibuka pada 11 Mei 1986, lima tahun setelah kematian Bob Marley, berdasarkan berita Daily Gleaner Jamaica. Dalam kasus ini, AI Overview memakai tiga referensi: unggahan Facebook Cedella Marley yang tidak memuat informasi tanggal pembukaan, blog “Adventures From Elle” yang disebut memberikan informasi tidak tepat, serta Wikipedia yang memuat keterangan kontradiktif dengan menyebut 1986 dan 1987.
Contoh lain menunjukkan AI Overview dapat memilih referensi yang benar, tetapi salah menafsirkan isinya. Ketika ditanya sungai yang berbatasan dengan sisi barat kota Goldsboro, North Carolina, AI Overview menjawab Sungai Neuse. Padahal sungai yang mengalir di sepanjang sisi barat kota Goldsboro adalah Sungai Little, yang bermuara ke Sungai Neuse. Oumi menyebut AI Overview mengutip situs pariwisata Goldsboro yang menyatakan Sungai Neuse mengalir melalui kota tersebut, tetapi kemudian menarik kesimpulan keliru dengan menyatakan Sungai Neuse berada di perbatasan barat kota.
Oumi juga menemukan kasus ketika referensi yang dipakai sudah tepat, tetapi jawaban tetap salah. Misalnya, saat ditanya kapan Yo-Yo Ma masuk “Classical Music Hall of Fame”, AI Overview menautkan ke situs organisasi tersebut yang memuat daftar 165 orang yang dinobatkan sejak 1998, termasuk Yo-Yo Ma. Meski demikian, jawaban AI Overview justru menyatakan tidak ada catatan tentang penobatan Yo-Yo Ma dalam organisasi tersebut.
Pola lainnya adalah jawaban utama benar, tetapi disertai informasi tambahan yang keliru. Dalam contoh yang disebut Oumi, AI Overview memberikan usia atlet baseball Dick Drago saat meninggal dengan benar, tetapi berulang kali salah menyebutkan tanggal kematiannya ketika memberi konteks tambahan.
Dari pihak Google, perusahaan pada dasarnya mengakui AI Overview bisa menyajikan jawaban yang salah. Hal itu juga tercantum dalam catatan di kolom ringkasan: “AI dapat membuat kesalahan, jadi periksa kembali jawabannya.” Namun, juru bicara Google, Ned Adriance, menilai riset Oumi memiliki kekurangan serius karena bergantung pada alat uji benchmark yang dibuat oleh OpenAI sehingga bisa mengandung informasi yang salah.
“Studi ini memiliki kekurangan serius. Ini tidak mencerminkan apa yang sebenarnya dicari orang di Google,” kata Ned Adriance, sebagaimana dilansir The New York Times, Rabu (6/5/2026).
Google AI Overview juga dinilai tidak mudah diukur karena sistemnya dapat menghasilkan respons baru untuk setiap kueri. Kueri yang sama pada waktu berbeda bisa menghasilkan satu jawaban akurat dan satu jawaban tidak akurat. Untuk memverifikasi jawaban, perusahaan seperti Oumi menggunakan sistem AI mereka sendiri, tetapi pendekatan ini memiliki tantangan karena AI yang dipakai untuk menguji juga berpotensi membuat kesalahan.
Google sendiri pernah menunjukkan ketidakakuratan Gemini melalui pengujian internal. Dalam analisisnya, Google menemukan bahwa Gemini 3 menghasilkan informasi tidak akurat sebanyak 28 persen. Meski demikian, Google mengklaim AI Overviews lebih akurat dibanding Gemini yang beroperasi sendiri karena AI Overviews mengambil informasi dari mesin pencari Google sebelum menyusun respons.
Sementara itu, menurut analisis Oumi pada periode pengujian Oktober 2025, Google AI Overviews tidak akurat sebanyak 15 persen. Oumi juga mencatat perbedaan terkait kualitas referensi: pada Oktober 2025 saat AI Overview menggunakan Gemini 2, jawaban benar dengan referensi tidak akurat muncul 37 persen; pada Februari saat menggunakan Gemini 3, angkanya meningkat menjadi 56 persen.
Di tengah perbedaan penilaian tersebut, sejumlah ahli teknologi menilai AI Overviews cukup akurat dan mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, riset dan contoh kasus yang dipaparkan menunjukkan fitur ini masih bisa menghasilkan jawaban tidak tepat.
Sejumlah pihak menyarankan pengguna tetap melakukan verifikasi. Pratik Verma, CEO Okahu—perusahaan pengembang AI—menilai tingkat akurasi AI Google pada dasarnya hampir sama dengan program AI lain. Ia menyarankan pengguna tidak mengandalkan satu sumber dan membandingkan informasi dengan rujukan lain.
“Jangan pernah mempercayai satu sumber saja. Selalu bandingkan apa yang Anda dapatkan dengan sumber lain,” kata Pratik.