Sebuah riset dari Harvard menyebut kecerdasan buatan (AI) mulai menggeser pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif. Temuan ini menunjukkan perubahan pola kebutuhan tenaga kerja di sejumlah sektor, seiring meningkatnya pemanfaatan AI untuk tugas rutin.
Dalam riset tersebut, disebutkan lowongan pekerjaan mengalami penurunan sebesar 13 persen. Penurunan ini dikaitkan dengan semakin banyaknya pekerjaan berulang yang dapat diotomatisasi, sehingga sebagian kebutuhan rekrutmen untuk peran tertentu ikut berkurang.
Meski demikian, riset yang sama juga mencatat adanya jenis keterampilan baru yang justru semakin dicari oleh perusahaan. Artinya, pergeseran akibat AI tidak hanya menekan permintaan pada pekerjaan repetitif, tetapi juga mengubah fokus rekrutmen ke kemampuan yang relevan dengan kebutuhan baru di dunia kerja.
Temuan ini mengindikasikan bahwa dinamika pasar kerja tengah bergerak: pekerjaan rutin cenderung terdampak, sementara keterampilan baru yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan teknologi menjadi perhatian utama perusahaan.