Jambi—Relawan TIK Indonesia Muh Nurfajar Muharom menekankan pentingnya mengenali fitur proteksi pada perangkat digital untuk mengurangi risiko kerusakan sistem akibat gangguan, sekaligus mencegah meluasnya kerusakan pada perangkat elektronik.
“Fungsi dari sistem proteksi adalah sistem proteksi akan mendeteksi suatu gangguan di bagian sistem yang diamankan,” kata Nurfajar di Jambi, Kamis.
Ia menjelaskan, ketiadaan proteksi dapat memicu berbagai risiko, mulai dari kehilangan data hingga adanya penyusup yang bekerja secara aktif maupun pasif. Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada keamanan data yang tersimpan di perangkat elektronik.
Nurfajar memaparkan, fitur proteksi pada perangkat digital secara umum terbagi menjadi proteksi perangkat keras dan proteksi perangkat lunak. Proteksi perangkat keras antara lain berupa kata sandi, autentikasi sidik jari (fingerprint), serta autentikasi wajah. Sementara proteksi perangkat lunak mencakup pencadangan data (back up), antivirus, dan enkripsi penuh pada penyimpanan (full disk encryption).
Dalam upaya mendorong pemahaman literasi digital di masyarakat, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggelar kegiatan Literasi Digital yang bertujuan mengedukasi masyarakat agar lebih memahami literasi digital dan bersikap bijaksana dalam menggunakan platform digital. Program tersebut dilaksanakan di 77 kota dan kabupaten di wilayah Sumatera II.
Kegiatan yang menjangkau wilayah dari Aceh hingga Lampung itu disebut diikuti sekitar 600 peserta pada setiap pelaksanaan. Sasaran peserta meliputi aparatur sipil negara (PNS), TNI-Polri, orang tua, pelajar, penggiat usaha, pendakwah, dan kelompok lainnya.
Kominfo juga menyampaikan empat kerangka utama yang dibahas dalam kegiatan tersebut, yakni Digital Skill, Digital Safety, Digital Ethic, dan Digital Culture, dengan beragam tema pada masing-masing kerangka. Pesatnya kemajuan teknologi serta perubahan aktivitas masyarakat akibat pandemi COVID-19 disebut turut mendorong perlunya percepatan agenda literasi digital.
Kegiatan literasi digital dilaksanakan secara virtual dengan menghadirkan narasumber sesuai bidangnya. Pada kegiatan literasi digital di Kabupaten Sarolangun, sesi keamanan digital membahas risiko penggunaan aplikasi pengubah wajah yang disampaikan oleh Hesty Maurenn, Founder Principal of Paris De La Mode Fashion School.
Selain itu, sesi budaya digital membahas literasi dalam menghadapi disintegrasi bangsa oleh Kepala SMKN 7 Sarolangun Didik Siswanto. Sementara sesi etika digital mengulas bahaya pornografi bagi perkembangan otak anak yang disampaikan Kepala SMK Muhammadiyah Singkut, Sarolangun, Agus Muslim.