BERITA TERKINI
Relawan TIK Aceh Raih Penghargaan Komunitas Pendorong Internet untuk Rakyat

Relawan TIK Aceh Raih Penghargaan Komunitas Pendorong Internet untuk Rakyat

Relawan TIK Aceh dinobatkan sebagai pemenang kategori Komunitas Pendorong Internet untuk Rakyat dalam ajang Apresiasi Konektivitas Digital 2026 yang digelar Bakti Komdigi bersama Detikcom. Penghargaan itu diumumkan pada malam penganugerahan di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Ajang Apresiasi Konektivitas Digital 2026 diselenggarakan untuk memberi panggung bagi individu, komunitas, hingga institusi yang dinilai berperan nyata dalam memperkuat konektivitas dan literasi digital di wilayah masing-masing.

Dalam kerja-kerja kebencanaan, Relawan TIK Aceh menyoroti pentingnya akses internet darurat di posko pengungsian. Dengan dibukanya jaringan internet darurat menggunakan Starlink/VSAT, warga yang sebelumnya terputus komunikasi dapat kembali menghubungi keluarga, sehingga membantu mengurangi kecemasan sosial. Internet juga dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lebih positif dan produktif, seperti komunikasi serta mengunggah informasi terkait keberadaan dan kondisi terkini masyarakat.

Ketua RTIK Aceh, Maulana, menjelaskan bahwa saat banjir melanda wilayah Aceh dan Sumatera Utara, layanan internet sempat mengalami gangguan selama tiga hari. Pada periode tersebut, tingkat BTS yang beroperasi disebut berada di bawah 50%, dengan kondisi sejumlah BTS hidup-mati, dan setelah bencana banyak yang tidak berfungsi. Daerah terdampak seperti Aceh Tamiang disebut menjadi sangat terisolasi.

Upaya pemulihan akses internet pascabanjir juga menghadapi hambatan geografis. Topografi pegunungan dan wilayah terisolasi menyulitkan transmisi sinyal, sementara akses teknisi turut terhambat ketika jalan terputus akibat longsor.

Tantangan diperparah oleh kerusakan infrastruktur vital. Perangkat BTS dan kabel serat optik dilaporkan kerap rusak akibat terendam air atau tergerus arus. Ketergantungan pada pasokan listrik yang kerap padam total saat bencana juga menjadi kendala, termasuk ketika power supply BTS terendam air. Dalam catatan yang disampaikan, terdapat sembilan backbone putus, kabel di jembatan terdampak, hingga jembatan putus.

Pasca banjir, RTIK Aceh menggalang kolaborasi multi-pihak untuk memulihkan aksesibilitas digital darurat. Bersama pemerintah (Kominfo, Polri, dan Diskominfo), mereka mendirikan posko internet darurat menggunakan perangkat satelit Starlink serta berperan sebagai fasilitator komunikasi bagi korban.

RTIK Aceh juga menjalin kemitraan dengan jejaring seperti Siberkreasi untuk menjalankan literasi digital mendesak, terutama dalam menghadapi hoaks dan informasi palsu yang kerap beredar di media sosial saat bencana. Di saat yang sama, sinergi dilakukan dengan sektor swasta, termasuk ISP/provider, untuk mempercepat pemulihan jaringan seluler, serta menggalang donasi logistik seperti power bank dan genset.

Koordinasi turut dilakukan dengan relawan lain, termasuk organisasi seperti Yayasan Air Putih dan Relawan Lintas Komunitas, guna memastikan manajemen bantuan berjalan efektif berbasis data di tengah tantangan geografis dan infrastruktur yang lumpuh.

Di luar penanganan darurat, RTIK Aceh menyebut memiliki program yang menyasar kebutuhan masyarakat di era digital. Kegiatannya mencakup pembelajaran digital untuk meningkatkan kapasitas pemanfaatan teknologi secara produktif, digitalisasi UMKM agar pelaku usaha dapat go digital dan berdaya saing, serta dorongan digital parenting agar orang tua mampu mengarahkan penggunaan teknologi secara sehat bagi anak.

Program lainnya meliputi sertifikasi profesi untuk meningkatkan kompetensi SDM di bidang teknologi, yang salah satunya pernah dilakukan pada pertengahan 2025. RTIK Aceh juga mengaku melakukan pendampingan desa untuk membantu pemanfaatan teknologi dalam pelayanan dan informasi publik, mendorong pengembangan aplikasi publik sebagai solusi digital, serta konsisten melakukan sosialisasi literasi digital.