BERITA TERKINI
Red Hat Indonesia Dorong Ekosistem AI Open Source untuk Perkuat Kedaulatan Digital

Red Hat Indonesia Dorong Ekosistem AI Open Source untuk Perkuat Kedaulatan Digital

Red Hat Indonesia menilai kolaborasi komunitas menjadi kunci untuk bersaing di era kecerdasan buatan (AI). Country Manager Red Hat Indonesia, Vony Tjiu, mengatakan inovasi tidak dapat dibangun secara soliter, melainkan perlu dilakukan bersama melalui semangat open source.

Pernyataan itu disampaikan Vony di sela gelaran Red Hat Tech Day: Jakarta 2026. Ia menekankan pentingnya Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga ikut menjadi produsen dalam ekosistem AI global.

Vony menyoroti cepatnya pertumbuhan model AI dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, China, dan Korea Selatan. Dalam konteks tersebut, ia menantang talenta lokal agar mengambil peran lebih besar.

“Model AI baru bermunculan setiap hari. Pertanyaannya, Indonesia di mana? Kita harus menjadi produser AI, jangan hanya mengonsumsi. Red Hat berkomitmen membantu menciptakan National AI Framework melalui demokratisasi inovasi berbasis open source agar teknologi ini bisa diakses oleh siapa saja,” ujar Vony, Kamis (30/4/2026) di Jakarta.

Menurut Vony, esensi open source adalah menciptakan teknologi yang lebih transparan, dapat diakses, dan aman. Dengan melibatkan banyak kontributor, ia menilai inovasi dapat lahir lebih cepat dibandingkan pengembangan yang bersifat tertutup. Red Hat pun menyatakan ingin membawa semangat tersebut ke pengembangan AI di Indonesia.

Salah satu fokus yang diangkat adalah pembangunan intelligent application yang mampu memahami pengguna secara lebih mendalam. Untuk itu, Red Hat berupaya menjembatani kebutuhan infrastruktur tradisional—seperti sistem operasi (OS) dan otomasi—dengan lapisan AI modern.

“Kami memberikan alat, koneksi, dan keahlian agar manfaat teknologi benar-benar terasa. Kami ingin pelanggan kami berani maju, the way is forward. Tidak ada gunanya melihat ke belakang,” tuturnya.

Selain pengembangan ekosistem AI, Vony juga menyinggung pentingnya kedaulatan infrastruktur digital. Ia menekankan infrastruktur perlu menjadi prioritas nasional dengan prinsip yang selaras dengan visi pemerintah: Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.

“Konektivitas itu penting untuk tumbuh sebagai negara, tetapi paling krusial adalah ‘Terjaga’, yang artinya harus aman. Jangan sampai kita terkoneksi dan tumbuh, tapi sistem kita tidak terlindungi,” ucapnya.

Dari sisi teknis, Red Hat menyebut menawarkan solusi yang mengurangi ketergantungan pada perangkat keras tertentu. Di tengah kelangkaan GPU global, Red Hat bekerja sama dengan berbagai penyedia akselerator, termasuk Intel, AMD, serta pemain regional seperti Rebellion dari Korea dan MetaX dari China.