BERITA TERKINI
Perusahaan di Thailand Diduga Jadi Perantara Penyelundupan Server Berchip Nvidia ke China

Perusahaan di Thailand Diduga Jadi Perantara Penyelundupan Server Berchip Nvidia ke China

Sebuah investigasi mengungkap dugaan skema penyelundupan teknologi berskala internasional yang terkait dengan pengiriman server kecerdasan buatan (AI) buatan Super Micro Computer berisi chip Nvidia ke China. Skema itu disebut melanggar kebijakan ekspor ketat Amerika Serikat (AS) terhadap perangkat keras AI berteknologi tinggi.

Laporan yang pertama kali dirilis Bloomberg News pada Jumat lalu menyebut sebuah entitas Asia Tenggara yang dalam dokumen pengadilan disebut sebagai “Company-1” diidentifikasi sebagai OBON Corp, perusahaan berbasis di Bangkok, Thailand. Informasi tersebut dikutip Reuters pada Minggu (10/5/2026).

Menurut laporan itu, OBON Corp diduga berperan sebagai perantara utama dalam memfasilitasi pengiriman perangkat keras sensitif kepada sejumlah pelanggan di China, termasuk Alibaba Group Holding. Dugaan ini muncul dari dakwaan yang diajukan Departemen Kehakiman AS pada Maret 2026, yang menyebut skema dijalankan dengan tingkat kerahasiaan tinggi untuk mengelabui otoritas pengawas.

Tiga orang disebut menjadi tokoh kunci dalam dugaan pengaturan pengiriman tersebut, yakni salah satu pendiri Super Micro Yih-Shyan Liaw, manajer penjualan Ruei-Tsang Chang, dan kontraktor Ting-Wei Sun. Mereka diduga merancang rute pengiriman kompleks: server dikirim lebih dulu ke Taiwan, kemudian diteruskan ke Asia Tenggara. Di wilayah tersebut, perangkat keras diduga dikemas ulang ke dalam kotak polos tanpa merek untuk menyamarkan asal-usul produk sebelum akhirnya diselundupkan ke daratan China.

Jaksa penuntut menyebut nilai teknologi AI yang diduga berpindah tangan lewat jalur ini mencapai sedikitnya USD 2,5 miliar, atau lebih dari Rp 43 triliun. Intensitas pengiriman dilaporkan memuncak pada periode April hingga pertengahan Mei 2025, dengan nilai pengiriman pada rentang waktu itu disebut melebihi USD 500 juta (sekitar Rp 8,6 triliun).

Alibaba membantah keterlibatan dalam kasus tersebut. Dalam pernyataan melalui email kepada Reuters, perusahaan menegaskan tidak memiliki hubungan bisnis dalam bentuk apa pun dengan Super Micro, OBON Corp, maupun perantara pihak ketiga lain yang disebut dalam surat dakwaan. Alibaba juga menyatakan chip Nvidia yang dilarang pemerintah AS tidak pernah digunakan dalam operasional pusat data mereka.

Sementara itu, Nvidia menyatakan komitmennya untuk mematuhi regulasi pemerintah. Juru bicara Nvidia mengatakan perusahaan mewajibkan seluruh mitra dalam ekosistemnya mengikuti aturan kepatuhan yang ketat dan siap bekerja sama dengan otoritas terkait untuk memastikan aturan ekspor ditegakkan.

Hingga kini, Super Micro belum memberikan komentar atas permintaan konfirmasi. OBON Corp yang berkantor di Bangkok juga dilaporkan tidak dapat dihubungi untuk dimintai klarifikasi mengenai dugaan perannya sebagai “Company-1”.

Kasus ini mencuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Beijing terkait dominasi teknologi. Sejak 2022, AS melarang ekspor chip kelas atas Nvidia ke China dengan alasan mencegah pemanfaatan untuk pengembangan militer. Meski AS sempat mengizinkan penjualan chip H200 dengan spesifikasi tertentu pada awal 2026, kontrol terhadap server AI disebut tetap menjadi prioritas keamanan nasional.

Dampak perkara ini juga disebut merembet ke internal Super Micro. Perusahaan berbasis di Silicon Valley itu menghadapi gugatan dari pemegang saham yang menuduh adanya penipuan sekuritas, dengan klaim bahwa perusahaan menyembunyikan fakta bahwa sebagian besar pendapatannya bergantung pada penjualan ke China yang melanggar hukum federal AS.

Investigasi lanjutan masih berlangsung untuk menelusuri sejauh mana keterlibatan pihak lain dalam rantai pasok global yang diduga memungkinkan teknologi terlarang tetap mengalir ke wilayah yang dijatuhi pembatasan.