Pentagon menandatangani perjanjian dengan delapan perusahaan teknologi, termasuk Google, Nvidia, dan SpaceX, untuk membantu militer Amerika Serikat meningkatkan keunggulan di medan perang melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Departemen Perang AS pada 1 Mei menyatakan kerja sama ini merupakan bagian dari transformasi guna membangun militer AS menjadi kekuatan tempur yang berpusat pada AI. Langkah tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan kemampuan prajurit dalam mempertahankan keunggulan pengambilan keputusan di seluruh domain peperangan.
Berdasarkan ketentuan perjanjian, sejumlah perusahaan—di antaranya OpenAI, Microsoft, Amazon Web Services (AWS), Oracle, serta perusahaan rintisan AI Reflection—akan menerapkan teknologi AI mereka pada “jaringan rahasia” Departemen Perang untuk tujuan “perang yang sah”.
Kolaborasi ini berlangsung di tengah upaya perusahaan teknologi memperluas peran mereka di sektor militer. Namun, kerja sama semacam ini juga diiringi kekhawatiran dari sebagian staf internal terkait potensi penggunaan AI untuk senjata otonom dan pengawasan massal.