MyRepublic Indonesia mulai mengomersialkan layanan MyRepublic Air, atau yang disebut “internet rakyat”, setelah dinyatakan lolos Uji Layak Operasi (ULO). Layanan ini mulai tersedia secara komersial sejak pekan lalu, 14 April 2026.
MyRepublic Air merupakan proyek pengembangan layanan internet unlimited berbasis Fixed Wireless Access (FWA). Layanan ini disebut akan didukung teknologi True 5G-Fiber Quality dan Truly Unlimited.
Pengembangan FWA MyRepublic Air ditopang kepemilikan spektrum pita frekuensi 1,4 GHz. MyRepublic Indonesia menjadi pemenang lelang spektrum 1,4 GHz yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), dengan memenangkan dua regional: regional dua (Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara) serta regional tiga (Kalimantan dan Sulawesi).
Chief Technology Officer (CTO) MyRepublic Indonesia, Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa FWA berbeda dengan fixed broadband berbasis fiber to the home (FTTH). Jika FTTH mengandalkan kabel serat optik, maka FWA memanfaatkan spektrum pita frekuensi untuk menghantarkan koneksi internet ke rumah.
Menurut Hendra, penggunaan frekuensi 1,4 GHz memberikan jangkauan yang relatif jauh. Ia menyebut sinyal FWA dapat menembus hingga tiga lapis dinding di rumah, ditambah dukungan bandwidth tinggi yang dapat disesuaikan dengan instruksi pemerintah.
Meski demikian, MyRepublic mengakui ada sejumlah tantangan dalam penggelaran FWA pada spektrum 1,4 GHz. Tantangan utama, kata Hendra, adalah ekosistem perangkat dan implementasinya yang masih baru. Ia juga menyebut Indonesia menjadi negara pertama yang menggunakan spektrum 1,4 GHz untuk layanan FWA.
Untuk menjawab tantangan tersebut, MyRepublic Indonesia terus melakukan pengembangan dari sisi radio hingga jaringan, serta melakukan pengujian secara berkelanjutan. Perusahaan juga menyatakan optimistis realisasi teknologi FWA 1,4 GHz dapat segera dijalankan bersama ZTE, mengingat kerja sama keduanya telah berlangsung cukup lama.
Tantangan lain yang disoroti adalah kebutuhan belanja modal (CapEx) untuk aset fisik jangka panjang dan biaya operasional (OpEx) untuk menjalankan layanan. Selain itu, karena FWA merupakan teknologi baru di Indonesia, MyRepublic menilai masyarakat masih relatif awam terhadap konsep layanan ini.
Di sisi lain, MyRepublic menilai FWA berpotensi membantu mengatasi area blankspot internet, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Karakter geografis Indonesia yang kepulauan serta memiliki kontur wilayah beragam dinilai membuat pendekatan nirkabel tetap seperti FWA lebih mudah diterapkan di sejumlah lokasi yang belum terjangkau fiber optik.
Hendra juga memaparkan posisi FWA dibandingkan akses internet lain. Jika FTTH dan FWA sama-sama tersedia di suatu lokasi, FTTH disebut masih menjadi pilihan terbaik karena stabil, cepat, dan konsisten. Namun bila FTTH belum tersedia, FWA dinilai lebih baik dibanding mengandalkan paket mobile karena koneksi lebih stabil berkat perangkat penerima yang tetap dan kapasitas jaringan yang lebih terkontrol. Sementara itu, mobile broadband disebut sebagai pelengkap untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Dengan adanya lelang spektrum 1,4 GHz, MyRepublic memperkirakan FWA akan semakin matang dan menarik untuk wilayah yang belum dapat dijangkau fiber optik. Dalam pandangannya, FTTH dan FWA bukan pesaing, melainkan solusi yang saling melengkapi untuk memperluas pemerataan akses digital di Indonesia.