BERITA TERKINI
Model AI Claude Mythos Picu Kekhawatiran Menteri Keuangan dan Bankir soal Risiko Siber di Sistem Keuangan

Model AI Claude Mythos Picu Kekhawatiran Menteri Keuangan dan Bankir soal Risiko Siber di Sistem Keuangan

Sejumlah menteri keuangan, bankir, hingga pelaku industri finansial global dilaporkan mulai menaruh perhatian serius terhadap model kecerdasan buatan (AI) terbaru bernama Claude Mythos yang dikembangkan Anthropic. Model ini dinilai memiliki kemampuan yang berpotensi mengganggu keamanan sistem keuangan, terutama melalui peningkatan risiko serangan siber.

Kekhawatiran tersebut mencuat dalam berbagai forum internasional. Laporan BBC menyebutkan, Mythos menjadi salah satu topik pembahasan utama dalam pertemuan International Monetary Fund (IMF) di Washington DC pada 13–18 April.

Menteri Keuangan Kanada François-Philippe Champagne mengatakan isu ini cukup serius hingga menjadi perhatian para menteri keuangan dunia. “Ini jelas cukup serius untuk mendapat perhatian semua menteri keuangan,” ujarnya. Ia membandingkan urgensi persoalan ini dengan risiko konflik di Selat Hormuz, namun menekankan bahwa tantangan dari Mythos terletak pada sifatnya yang belum sepenuhnya dipahami. “Bedanya, (konflik) Selat Hormuz, kita tahu lokasinya dan ukurannya. Sementara isu dengan Anthropic ini adalah sesuatu yang belum diketahui sepenuhnya,” katanya.

Champagne menegaskan perlunya pengamanan dan prosedur untuk memastikan ketahanan sistem keuangan tetap terjaga. Menurutnya, berbeda dengan risiko konvensional, kemampuan AI seperti Mythos menghadirkan ancaman yang belum terpetakan secara jelas.

Claude Mythos merupakan bagian dari sistem AI Claude milik Anthropic, yang dikembangkan sebagai pesaing ChatGPT dan Gemini. Model ini disebut sebagai yang paling mumpuni yang pernah dibuat Anthropic, dengan kemampuan menonjol di bidang keamanan siber.

Mythos disebut mampu menemukan bug lama atau mengeksploitasi celah sistem dengan lebih mudah. Kemampuan itu menjadi sumber kekhawatiran utama karena model tersebut dilaporkan dapat mengidentifikasi kerentanan pada berbagai sistem, bahkan berpotensi melakukan simulasi hingga eksekusi serangan siber secara otomatis dalam skala besar. Jika disalahgunakan, serangan bisa berlangsung lebih cepat, masif, dan lebih sulit dideteksi dibanding metode konvensional.

Dari industri keuangan, CEO Barclays C.S. Venkatakrishnan menyatakan risiko ini perlu segera dipahami lebih dalam, termasuk kerentanan yang mungkin terekspos. Gubernur Bank of England Andrew Bailey juga menilai perkembangan tersebut harus ditanggapi dengan sangat serius karena berpotensi meningkatkan risiko kejahatan siber.

Hingga kini, Anthropic belum merilis Mythos ke publik. Model tersebut disebut baru diberikan secara terbatas kepada sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Amazon Web Services, CrowdStrike, Microsoft, dan Nvidia untuk pengujian keamanan.

Lembaga UK AI Security Institute yang telah menguji versi awal model ini menyebut Mythos memang mampu menemukan banyak celah pada sistem dengan perlindungan lemah, meski belum terbukti jauh lebih unggul dibanding model sebelumnya. Sebagai langkah mitigasi, sejumlah bank besar dan otoritas keuangan juga telah diberi akses awal untuk menguji sistem mereka sebelum model ini dirilis lebih luas, guna memastikan ketahanan terhadap potensi ancaman baru berbasis AI.

Kekhawatiran terhadap Claude Mythos turut berdampak pada pasar, khususnya sektor keamanan siber. Setelah informasi mengenai kemampuan model ini beredar, kapitalisasi pasar perusahaan keamanan siber dilaporkan menyusut sekitar 14,5 miliar dollar AS dalam satu hari.

Sejumlah saham perusahaan keamanan siber besar tercatat melemah pada Kamis, 27 Maret 2026, saat kabar soal Mythos beredar. Palo Alto Networks turun sekitar 6–7,5 persen, CrowdStrike melemah sekitar 5–7,2 persen, Zscaler anjlok hingga 5–8 persen, SentinelOne turun sekitar 8 persen, dan Fortinet turun sekitar 2,4–4,8 persen.

Investor menilai, apabila kemampuan AI ofensif berkembang lebih cepat daripada solusi pertahanan, efektivitas sistem keamanan yang ada dapat tertekan dan pada akhirnya berpotensi memengaruhi model bisnis perusahaan keamanan siber.