Menteri Luar Negeri Singapura, Dr. Vivian Balakrishnan, mengambil langkah berbeda di tengah ramainya wacana global soal regulasi kecerdasan buatan (AI). Ia secara terbuka memperkenalkan asisten AI pribadi yang ia bangun sendiri untuk mendukung pekerjaan hariannya.
Balakrishnan menyebut sistem itu sebagai “otak kedua” bagi seorang diplomat. Asisten tersebut diklaim dapat menjawab pertanyaan teknis, melakukan riset topik, menyusun draf pidato, hingga menyiapkan pengarahan harian.
“Sistem ini telah menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya, saya bahkan tidak berani mematikannya!” tulis Balakrishnan dalam unggahan di Facebook.
Balakrishnan bukan figur yang baru mengenal dunia sains dan teknologi. Ia merupakan mantan dokter mata, menempuh pendidikan di Anglo-Chinese School dan National Junior College, serta meraih Beasiswa Presiden untuk studi kedokteran di National University of Singapore pada 1980.
Asisten virtual yang ia rancang dibangun di atas dua fondasi open-source. Pertama, NanoClaw, yakni asisten AI mandiri berbasis model Claude yang dikembangkan developer Gavriel Cohen. Sistem ini berjalan secara lokal di Raspberry Pi dan terhubung langsung ke aplikasi perpesanan yang digunakan Balakrishnan, seperti WhatsApp, Telegram, Slack, dan Discord.
Kedua, Balakrishnan menerapkan pola “LLM Wiki” yang digagas mantan Direktur AI Tesla, Andrej Karpathy. Pendekatan ini ditujukan untuk mengatasi masalah “amnesia” pada AI, yakni kecenderungan melupakan konteks percakapan ketika sesi baru dimulai.
Dengan pola tersebut, AI akan memproses berbagai materi milik Balakrishnan—mulai dari draf pidato, artikel, hingga kliping web—untuk kemudian mengekstraknya menjadi grafik pengetahuan yang terstruktur. Ketika menerima pertanyaan, sistem melakukan kueri semantik dan menyuntikkan fakta relevan, sehingga asisten dinilai kian “pintar” seiring waktu.
Bagi Balakrishnan, AI adalah teknologi yang perlu dirakit dan digunakan, bukan semata diperdebatkan sebagai kebijakan yang abstrak. “Diplomat yang belajar bekerja sama dengan AI akan memiliki keunggulan yang sangat berarti, dan saya rasa keunggulan itu dimulai dari sekarang,” ujarnya.
Dalam konteks pejabat negara, isu privasi data juga menjadi perhatian. Balakrishnan menekankan pentingnya privasi tingkat tinggi agar data tidak mudah bocor.