Bandung — Dunia digital di Indonesia, terutama di kalangan Generasi Z, disebut mengalami perubahan besar seiring teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian menyatu dengan aktivitas harian. Jika sebelumnya AI lebih sering dipandang sebagai alat eksperimen, pada 2026 teknologi ini dinilai telah menjadi bagian dari cara anak muda bekerja, belajar, dan berekspresi.
Integrasi AI ke dalam aplikasi populer juga menciptakan standar baru dalam produktivitas dan kreativitas. Berikut lima aplikasi yang disebut menjadi andalan Gen Z pada 2026.
1. Canva
Canva masih menjadi pilihan bagi banyak Gen Z yang berkecimpung di ranah kreatif. Peluncuran Canva AI 2.0 pada April 2026 menghadirkan fitur Conversational Design, yang memungkinkan pengguna membuat materi visual melalui perintah suara atau teks. Contohnya, pengguna bisa meminta AI menyusun draf presentasi bertema tertentu, lalu sistem menyiapkan 10 slide lengkap dengan visual dan narasi yang masih bisa diedit per elemen.
Canva juga disebut memiliki kemampuan pengeditan video otomatis, termasuk sinkronisasi musik dan pembuatan subtitle dalam hitungan detik, sehingga memudahkan kreator konten memproduksi aset visual.
2. TikTok
Pada 2026, TikTok disebut berkembang menjadi mesin pencari utama bagi Gen Z. Melalui fitur AI Smart Search, pengguna dapat menemukan informasi kontekstual di dalam video tanpa perlu menontonnya satu per satu. Ada pula fitur AI Highlight yang membantu menyaring konten yang tidak sesuai berdasarkan konteks pencarian.
Selain itu, TikTok menghadirkan sejumlah fitur berbasis AI lain, seperti pembuatan avatar khusus (AI Self/3D) dan mengubah gambar statis menjadi video (AI Alive). Untuk kreativitas visual, tersedia filter AR pelacak wajah, fitur kecantikan otomatis, serta penghapus objek (AI Edit). Dari sisi audio dan bahasa, ada voiceover bertenaga AI serta penerjemah multibahasa. TikTok juga menambahkan label otomatis untuk konten buatan AI dan penyaringan konten negatif melalui Smart Keyword Filter, serta mengandalkan rekomendasi FYP yang kian personal dan peningkatan interaksi saat Live Streaming.
3. Notion
Di ranah akademik dan profesional, Notion disebut tetap menjadi “otak kedua” bagi banyak anak muda. Notion AI membantu merangkum catatan kuliah atau rapat yang tidak rapi menjadi rencana yang lebih sistematis.
Salah satu fitur yang banyak digunakan adalah kemampuan AI untuk melakukan deep research di dokumen internal. Mahasiswa tingkat akhir disebut memanfaatkan Notion untuk mengelola referensi skripsi, termasuk mengidentifikasi celah riset atau menyarankan struktur penulisan. Sementara di dunia kerja, Notion kerap dipakai untuk membantu menyusun daftar pekerjaan.
4. Instagram
Instagram tetap menarik perhatian lewat fitur estetika yang didukung Meta AI. Salah satu tren yang disebut menguat adalah mengubah tampilan gambar sesuai imajinasi melalui perintah teks, misalnya mengganti latar kamar menjadi suasana perpustakaan tua di London.
Instagram juga disebut menghadirkan asisten AI di DM untuk membantu kreator mengelola interaksi dengan audiens secara lebih personal. Sistem ini dapat mempelajari gaya bicara pemilik akun agar balasan tetap terasa natural, sehingga membantu pengguna yang mengelola komunitas atau bisnis kecil tetap responsif tanpa mengalami kelelahan digital.
5. Aplikasi AI: Gemini, ChatGPT, dan Perplexity
Selain aplikasi media sosial dan produktivitas, platform AI murni seperti Gemini, ChatGPT, dan Perplexity juga disebut makin sering dipakai secara bersamaan dalam alur kerja harian. Pengguna tidak hanya bergantung pada satu layanan, melainkan mengombinasikannya sesuai kebutuhan.
Gemini 3.1 disebut unggul karena terintegrasi dengan ekosistem Google, sehingga memudahkan penyusunan rencana perjalanan ke Maps atau membuat draf email di Gmail. ChatGPT disebut menonjol untuk diskusi kreatif dan coding. Sementara Perplexity AI disebut menjadi pilihan untuk verifikasi fakta karena kemampuan menyertakan sumber referensi yang dinilai akurat dan kredibel.
Fenomena viral sejumlah aplikasi ini dinilai menunjukkan kecenderungan Gen Z yang mengutamakan efisiensi. Meski demikian, kemampuan berpikir kritis dan etika penggunaan data tetap menjadi catatan, termasuk tantangan untuk memverifikasi informasi yang dihasilkan AI di tengah arus informasi yang masif.