Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) memunculkan dampak baru bagi konsumen. Di tengah meningkatnya permintaan pengembangan AI, pengguna kini disebut semakin sulit menemukan ponsel baru dengan harga terjangkau.
Pemicunya berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur pusat data untuk AI yang terus bertambah. Pusat data AI sangat bergantung pada komponen chip dan memori, sehingga pasokan komponen tersebut makin banyak dialihkan untuk kebutuhan industri AI. Kondisi ini memicu krisis memori global yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi ponsel, terutama di segmen perangkat murah.
Dampak krisis memori ini tercermin pada kondisi pasar smartphone global. Dua firma riset, IDC dan Counterpoint Research, sama-sama melaporkan penurunan pasar ponsel pada kuartal I 2026 (Januari–Maret) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
IDC mencatat pengiriman smartphone global pada kuartal I 2026 turun 4,1 persen secara tahunan (year over year/YoY). Total perangkat yang dikapalkan pada periode tersebut mencapai 289,7 juta unit, turun dari 302 juta unit pada kuartal I 2025.
Sementara itu, Counterpoint memperkirakan penurunan pasar smartphone global pada kuartal I 2026 lebih besar, yakni 6 persen YoY. Namun, Counterpoint tidak merinci jumlah unit pengiriman global untuk periode kuartal I 2026 maupun kuartal I 2025.
Meski berbeda dalam besaran penurunan, kedua lembaga riset menilai lesunya pasar ponsel pada awal 2026 dipengaruhi krisis memori serta kenaikan harga smartphone.
Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, menyatakan keterbatasan ketersediaan memori berdampak langsung pada pengiriman dan permintaan ponsel. Menurutnya, pasokan memori yang terbatas memaksa pemangkasan pengiriman, sementara lonjakan harga memori meningkatkan biaya bahan baku dan mendorong banyak merek menaikkan harga.
Counterpoint juga menilai kelangkaan komponen memori—khususnya DRAM dan NAND—menjadi faktor utama perlambatan pasar. Kelangkaan itu disebut terjadi karena pasokan lebih diprioritaskan untuk pengembangan pusat data AI dibandingkan perangkat konsumen seperti smartphone.
IDC dan Counterpoint sama-sama menyebut kenaikan harga ponsel sebagai konsekuensi dari krisis memori. Produsen harus menyesuaikan biaya produksi untuk mengamankan pasokan komponen yang semakin langka.
Popal menambahkan, di sejumlah pasar negara berkembang, harga ponsel dilaporkan telah naik hingga 40–50 persen. Kenaikan tersebut dinilai menekan permintaan, terutama di pasar yang sensitif terhadap harga.