Indonesia disebut berada di tahap awal menuju perubahan besar dalam ekonomi digital. Perpaduan teknologi 5G dan kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kualitas konektivitas, tetapi juga mendorong transformasi industri dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menyatakan 5G merupakan evolusi tertinggi teknologi seluler dengan keunggulan pada efisiensi energi, kecepatan, serta latensi rendah. Mengacu pada Ericsson Mobility Report, ia menilai potensi ekonomi 5G di Indonesia sangat besar.
Dalam diskusi bertajuk How 5G and AI can Accelerate Indonesia’s Digital Economy yang digelar IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu (29/4/2026), Nora menyebut 5G berpotensi menyumbang hingga USD 41 miliar atau sekitar Rp 711 triliun terhadap PDB Indonesia pada periode transisi saat ini.
Meski demikian, adopsi 5G di Indonesia saat ini masih terbatas. Nora memaparkan penetrasi 5G masih di bawah 10%, namun diperkirakan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Ericsson memperkirakan porsi pelanggan 5G di Indonesia akan melampaui 30% dari total langganan seluler pada 2030.
Secara global, jumlah langganan 5G diproyeksikan mencapai 6,4 miliar pada 2031. Pada periode yang sama, konsumsi data seluler di Indonesia diperkirakan tumbuh 2,2 kali lipat antara 2025 hingga 2031. Nora menambahkan, 5G diperkirakan akan menyumbang 43% dari total volume data karena kemampuan kecepatan yang lebih tinggi.
Nora juga menekankan masa depan digital Indonesia bertumpu pada tiga pilar inovasi, yakni AI, komputasi awan (cloud), dan mobile 5G. Jika 4G dinilai membawa revolusi bagi pengguna individu melalui ekosistem aplikasi dan smartphone, 5G disebut akan lebih berdampak pada sektor industri.
Menurutnya, 5G dapat menjadi pusat transformasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan AI, termasuk mendukung otomatisasi pada manufaktur pintar serta meningkatkan pengalaman pelanggan. Ia turut menyoroti kebutuhan konektivitas berlatensi rendah untuk perangkat masa depan seperti kacamata pintar berbasis augmented reality (AR), yang dinilai tidak akan cukup ditopang oleh konektivitas tradisional seperti 4G atau Wi-Fi.
Menutup pemaparannya, Nora menyatakan peran 5G akan semakin penting bagi relevansi perusahaan di pasar masa depan, terutama terkait kebutuhan konektivitas dan stabilitas jaringan.