BERITA TERKINI
Kekhawatiran Orang Tua di Vietnam: Anak Kian Lama Menatap Layar, Risiko di Dunia Daring Menguat

Kekhawatiran Orang Tua di Vietnam: Anak Kian Lama Menatap Layar, Risiko di Dunia Daring Menguat

Saat mengunjungi keluarga kedua putrinya di kawasan Dinh Cong, Hanoi, Pham Thi Phuong—pensiunan guru sekolah dasar dari Hai Phong—mendapati keempat cucunya berkerumun dengan ponsel masing-masing. Mereka nyaris tidak berbicara, tidak berolahraga, dan tidak membantu pekerjaan rumah. Ia mengeluhkan kebiasaan itu karena dinilai dapat merusak penglihatan dan kesehatan anak-anak.

Pengalaman tersebut mencerminkan kegelisahan yang semakin sering terdengar di Vietnam. Di tengah ledakan teknologi, masa kanak-kanak yang dulu identik dengan permainan tradisional dan aktivitas luar ruang perlahan bergeser ke layar gawai. Internet menawarkan akses informasi dan hiburan yang luas, namun pada saat yang sama memunculkan berbagai risiko yang sulit diprediksi.

Sejumlah orang tua menyuarakan kekhawatiran tentang dampak negatif media sosial dan internet terhadap anak, mulai dari kecanduan layar, paparan konten berbahaya, perundungan siber, hingga risiko pelecehan. Banyak keluarga meminta otoritas memperketat kontrol konten dan membatasi waktu penggunaan layar untuk melindungi kesehatan mental, kemampuan kognitif, serta perkembangan anak secara menyeluruh.

Berbagai penelitian menunjukkan anak-anak menghabiskan rata-rata 3–5 jam per hari di internet, terutama untuk hiburan. Kondisi ini dinilai meningkatkan peluang anak terpapar konten tidak pantas seperti kekerasan, bahasa negatif, atau informasi keliru. Dalam sejumlah kasus, anak meniru perilaku berbahaya dari video “tantangan” yang beredar di internet dan berujung pada konsekuensi yang tidak diinginkan. Perundungan daring juga disebut meningkat, dengan dampak psikologis seperti kecemasan dan rendah diri.

Survei-survei juga mengaitkan penggunaan internet berlebihan dengan turunnya konsentrasi dan prestasi akademik. Tanpa bimbingan yang tepat, lingkungan daring kerap digambarkan sebagai “pedang bermata dua” yang dapat memengaruhi perkembangan anak secara diam-diam.

Gambaran penggunaan internet anak di perkotaan terlihat dalam laporan pendahuluan lima tahun Komite Rakyat Kota Ho Chi Minh terkait pelaksanaan Keputusan No. 830/QD-TTg (1 Juni 2021) tentang Program “Melindungi dan mendukung interaksi anak-anak yang sehat dan kreatif di lingkungan daring periode 2021–2025”. Kota tersebut memiliki sekitar 2,6 juta anak di bawah 16 tahun (18,6% populasi), dengan 96% rumah tangga memiliki akses internet. Disebutkan pula, 89% anak usia 10–15 tahun rutin menggunakan internet, sedangkan 87% anak usia 12–17 tahun mengakses internet rata-rata 5–7 jam per hari.

Kolonel Nguyen Hong Quan, Wakil Direktur Departemen Keamanan Siber dan Pencegahan Kejahatan Teknologi Tinggi di Kementerian Keamanan Publik, menyatakan perlindungan anak di ruang siber telah mendapat perhatian Partai dan Negara, melibatkan upaya bersama masyarakat serta dukungan komunitas internasional. Kerangka hukum disebut terus disempurnakan, sementara penerapan sains, teknologi, dan transformasi digital dalam pengelolaan keamanan siber juga didorong untuk mendukung implementasi secara nasional.

Namun, ia menilai tantangan masih besar, antara lain laju perkembangan internet yang cepat, jumlah pengguna yang besar, kesenjangan antarwilayah, kemunculan teknologi dan aplikasi baru yang melampaui upaya pengelolaan sehingga memunculkan risiko kompleks, serta keterbatasan tenaga ahli. Dalam situasi itu, ia mengusulkan sejumlah langkah, termasuk memperkuat “pencegahan bawaan” dan “kekebalan aktif” pada anak, menyempurnakan kerangka hukum, memperkuat kapasitas pasukan khusus, serta meningkatkan kerja sama internasional.

Di tingkat dampak, akses mudah terhadap konten tidak pantas menjadi salah satu sorotan. Internet memuat beragam informasi, termasuk konten kekerasan, pornografi, serta materi yang menghasut atau menyesatkan. Karena kemampuan memilah informasi anak belum matang, paparan berulang dikhawatirkan memengaruhi persepsi, membentuk pemikiran keliru, dan mengganggu perkembangan psikologis. Permainan dan video kekerasan juga disebut berpotensi memicu perilaku agresif, mudah tersinggung, atau kecenderungan meniru tindakan tidak sehat.

Selain paparan konten, ketergantungan perangkat elektronik turut menjadi perhatian. Kebiasaan menghabiskan waktu berlebihan untuk gim, video, atau media sosial dinilai dapat mengganggu kesehatan fisik—seperti penurunan penglihatan dan gangguan tidur—serta menghambat keterampilan komunikasi sosial. Anak yang kurang beraktivitas di luar ruangan dan minim interaksi langsung dengan keluarga maupun teman berisiko mengalami isolasi dan kekurangan keterampilan hidup penting.

Risiko penipuan dan penyalahgunaan daring juga disebut mengintai. Pelaku dapat menyamar sebagai teman untuk mendekati anak, menipu mereka agar memberikan informasi pribadi, atau mengarahkan pada aktivitas berbahaya. Minimnya pengalaman membuat anak rentan, sementara kebiasaan membagikan data seperti alamat, nomor telepon, atau foto pribadi dapat berujung pada konsekuensi yang tidak terduga.

Di sisi lain, paparan media sosial yang berlebihan dinilai dapat memengaruhi perkembangan psikologis dan pembentukan kepribadian. Anak dapat terdorong membandingkan diri dengan orang lain dan mengejar citra “sempurna” di dunia maya, yang berpotensi memicu rendah diri dan ketidakpuasan terhadap diri. Dorongan mengejar “like” dan “view” juga dikhawatirkan membuat anak bertindak impulsif atau melakukan hal berisiko demi perhatian. Sementara itu, konten hiburan yang serba cepat disebut dapat mengurangi kesabaran anak dalam aktivitas yang menuntut konsentrasi, seperti membaca atau mengerjakan tugas sekolah.

Meski demikian, internet tidak dipandang sepenuhnya buruk. Persoalan utama dinilai terletak pada cara penggunaan dan pengelolaannya. Dalam konteks pencegahan dampak negatif, keluarga dan sekolah disebut memegang peran penting. Orang tua didorong untuk memperhatikan, memantau, dan membimbing anak menggunakan internet secara aman, termasuk menetapkan batas waktu layar, memilih konten sesuai usia, serta menjaga komunikasi terbuka. Sekolah juga dipandang perlu memperkuat pendidikan keterampilan digital agar anak memahami cara melindungi diri di ruang daring.

Anak-anak sendiri dinilai perlu dibekali kesadaran diri dan kemampuan mengendalikan perilaku, termasuk memahami bahwa tidak semua informasi daring benar dan tidak mudah percaya pada orang asing. Kebiasaan berinternet yang sehat serta keseimbangan antara belajar, hiburan, dan aktivitas fisik dianggap penting bagi perkembangan holistik.

Untuk memperkuat perlindungan dan mendorong perkembangan anak yang positif di ruang digital, Perdana Menteri Vietnam menandatangani Keputusan Nomor 468/QD-TTg tertanggal 23 Maret 2026 yang menyetujui Program “Melindungi dan Mendukung Perkembangan Anak di Lingkungan Daring” periode 2026–2030. Program ini menargetkan dua fokus: memperkuat perlindungan anak sekaligus mendukung perkembangan positif mereka, meningkatkan keterampilan digital dalam konteks transformasi digital nasional, serta membentuk generasi baru “warga digital” di Vietnam.

Program tersebut berfokus pada penguatan pilar utama, mulai dari penyempurnaan sistem hukum terkait keamanan siber dan perlindungan anak, strategi komunikasi dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran secara seragam, hingga penerapan solusi teknologi untuk mendukung pengelolaan aktivitas anak serta penyediaan alat pendidikan keterampilan digital, konseling, dan dukungan cerdas. Program juga menekankan peningkatan kapasitas kekuatan lintas sektor serta penguatan “imunitas proaktif” anak melalui pendidikan pengetahuan dan keterampilan keselamatan daring.

Untuk periode 2026–2030, target yang disebutkan mencakup: 100% lembaga pendidikan umum menerapkan solusi keamanan siber; 100% penyedia layanan akses internet mengintegrasikan solusi pemblokiran informasi berbahaya selama transmisi; serta 100% provinsi dan kota yang dikelola secara pusat menerapkan solusi teknologi untuk mendukung pendidikan dan konseling keterampilan digital bagi anak. Program juga menargetkan agar 100% anak korban pelecehan daring memperoleh dukungan dan intervensi tepat waktu ketika diminta oleh anak, keluarga, atau komunitas.

Di tengah meluasnya penggunaan internet, isu perlindungan anak di ruang digital terus mengemuka. Sejumlah pihak menekankan bahwa perlindungan bukan semata pelarangan, melainkan pendampingan dan bimbingan yang tepat waktu agar anak dapat memanfaatkan internet secara aman, sehat, dan bertanggung jawab.