BERITA TERKINI
Kecepatan Internet Indonesia Masih Tertinggal, Biaya per Mbps Disebut Tertinggi di ASEAN

Kecepatan Internet Indonesia Masih Tertinggal, Biaya per Mbps Disebut Tertinggi di ASEAN

Koneksi internet yang kerap dikeluhkan lambat di Indonesia tercermin dalam sejumlah laporan terbaru. Data menunjukkan kecepatan internet nasional masih tertinggal dibandingkan banyak negara lain, sementara biaya yang dibayar pengguna dinilai tidak sebanding jika dihitung berdasarkan tarif per Mbps.

Berdasarkan Digital 2025 Global Overview Report dari We Are Social, rata-rata kecepatan internet seluler di Indonesia tercatat 29,06 Mbps. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 61,52 Mbps.

Di tingkat Asia Tenggara, capaian Indonesia juga belum kompetitif. Malaysia disebut memiliki kecepatan internet seluler rata-rata 104,99 Mbps. Sementara itu, Singapura tercatat sebagai salah satu negara dengan koneksi fixed broadband tercepat di dunia, dengan kecepatan mencapai 324,46 Mbps.

Untuk layanan internet rumah atau fixed broadband, Indonesia juga masih tertinggal. Rata-rata kecepatan koneksi tetap nasional berada di angka 32,05 Mbps, sedangkan rata-rata global mencapai 95,10 Mbps.

Kondisi ini kontras dengan perkembangan teknologi jaringan di sejumlah negara. Jepang, misalnya, sempat mencatat rekor kecepatan transmisi data hingga 402 terabit per detik dalam pengujian teknologi jaringan terbaru.

Selain kecepatan, sorotan lain mengarah pada biaya layanan internet. Data dari Cable.co.uk mencatat tarif internet Indonesia sekitar US$0,41 atau setara Rp6.800 per Mbps per bulan. Angka tersebut disebut sebagai salah satu yang paling mahal di Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, Singapura berada di kisaran US$0,03 per Mbps, atau hampir 14 kali lebih murah dibandingkan Indonesia.

Perbedaan antara kualitas dan biaya ini berdampak pada masyarakat yang semakin bergantung pada internet dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari pelajar yang mengikuti pembelajaran daring, pekerja kreatif yang membutuhkan unggahan data berukuran besar, hingga pelaku UMKM yang mengandalkan penjualan digital.

Dalam pemberitaan tersebut, faktor geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau disebut menjadi salah satu tantangan. Di sisi lain, persoalan pemerataan infrastruktur serta dominasi operator besar juga dinilai ikut memengaruhi peningkatan kualitas layanan internet nasional.

Meski demikian, terdapat catatan perkembangan. Laporan Ookla melalui Speedtest Global Index per September 2025 menyebut rata-rata kecepatan internet seluler Indonesia sempat meningkat menjadi 45,01 Mbps. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital juga mengklaim kualitas layanan broadband di sejumlah ibu kota provinsi mulai membaik, dengan rata-rata kecepatan mencapai 63,5 Mbps.

Namun, tantangan yang masih mengemuka adalah pemerataan akses dan keterjangkauan harga, terutama bagi masyarakat di daerah pinggiran dan pelosok yang belum menikmati kualitas jaringan setara kota-kota besar.