TRENGGALEK — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan guru dan siswa di Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, untuk menampilkan inovasi digital melalui Elysium Fest 2026. Kegiatan ini menjadi ruang unjuk karya yang menunjukkan bahwa kondisi geografis wilayah pegunungan tidak menghalangi upaya menuju pendidikan yang lebih modern.
Ajang yang digelar di SD Negeri 4 Pule tersebut diikuti 42 lembaga pendidikan. Lebih dari 500 siswa berpartisipasi dalam 17 cabang lomba, mulai dari olimpiade akademik hingga seni budaya. Di tengah rangkaian kompetisi, perhatian juga tertuju pada peluncuran “Elysium Assessment System”, platform ujian digital yang dikembangkan secara mandiri oleh para guru.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek, Agus Dwi Karyanto, mengapresiasi inovasi tersebut saat meninjau lokasi. Menurutnya, para guru di Pule telah memulai digitalisasi tanpa menunggu kelengkapan fasilitas dari pusat.
“Kami sangat mengapresiasi inovasi para guru di Pule. Dari keterbatasan, mereka justru melahirkan kreativitas luar biasa. Ini bukti bahwa transformasi digital bisa dimulai dari mana saja,” ujar Agus.
Platform berbasis web dan mobile itu dirancang untuk memudahkan evaluasi pembelajaran sekaligus meningkatkan transparansi hasil secara real-time. Agus menyatakan pemerintah daerah akan mengembangkan aplikasi tersebut agar dapat digunakan lebih luas oleh sekolah-sekolah di Trenggalek, termasuk dengan melibatkan Dinas Kominfo untuk penguatan sistem.
“Ke depan, kami akan memperluas penggunaan aplikasi ini ke seluruh sekolah di Trenggalek. Kami juga akan menggandeng Dinas Kominfo untuk memperkuat sistemnya,” katanya.
Selain inovasi dari para guru, siswa sekolah dasar di Pule juga menampilkan karya robotika dan coding. Dengan pendampingan guru, mereka merancang dan memamerkan robot edukatif, seperti mobil mini otomatis hingga becak pintar. Karya-karya tersebut kemudian diuji di lintasan, memancing antusiasme penonton ketika robot berhasil melewati rintangan hingga garis akhir.
Panggung Elysium Fest juga diisi pertunjukan seni, antara lain tari tradisional, pantomim, dongeng, dan musik. Di penghujung acara, panitia menyerahkan penghargaan kepada para juara dari 17 cabang lomba, termasuk pemenang seleksi resmi FLS2N. Para siswa menerima piala didampingi orang tua dalam suasana haru dan bangga.
Agus berharap Elysium Fest dapat berlanjut dan berkembang menjadi agenda tingkat kabupaten agar lebih banyak sekolah bisa terlibat. “Kami ingin Elysium Fest berkembang ke tingkat kabupaten. Ini cara yang tepat untuk mengasah kemampuan akademik sekaligus bakat seni siswa,” tegasnya.
Elysium Fest 2026 menjadi penegasan bahwa kolaborasi dan kemandirian dari wilayah pinggiran dapat melahirkan inovasi, baik melalui pengembangan aplikasi oleh guru maupun karya robotika dan seni dari para siswa.