BERITA TERKINI
Fortinet Soroti Kompleksitas Sistem dan Serangan Berbasis AI sebagai Ancaman Utama Keamanan Siber di Indonesia

Fortinet Soroti Kompleksitas Sistem dan Serangan Berbasis AI sebagai Ancaman Utama Keamanan Siber di Indonesia

Fortinet Indonesia menyoroti dua tantangan besar yang dinilai semakin membayangi organisasi di Indonesia, yakni meningkatnya ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI) serta kompleksitas sistem keamanan digital yang kian rumit. Kondisi tersebut disebut berpotensi membuka celah serius dalam perlindungan data perusahaan.

Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, mengatakan banyak perusahaan masih menerapkan keamanan siber secara “silo” atau terpisah-pisah, sehingga pengelolaan keamanan secara menyeluruh menjadi sulit. Ia menilai pola ini membuat organisasi memiliki terlalu banyak perangkat keamanan yang tidak mudah dipelajari maupun dioperasikan.

“Dulu, jika butuh perlindungan email, perusahaan membeli satu produk. Butuh firewall atau endpoint, beli merek lain lagi. Akibatnya, perusahaan memiliki terlalu banyak alat yang sulit dipelajari dan dioperasikan,” ujar Edwin Lim, dikutip Kamis (7/5/2026).

Berdasarkan studi terbaru Fortinet bersama Forrester Consulting, 64 persen organisasi di Asia Pasifik mengakui kompleksitas arsitektur keamanan menjadi hambatan utama operasional. Dampaknya, 46 persen organisasi menyatakan kewalahan menghadapi volume peringatan keamanan yang berlebihan, sementara 43 persen masih bergantung pada proses manual dalam menangani insiden siber.

Situasi tersebut dinilai dapat memperlambat kemampuan organisasi dalam mendeteksi dan merespons ancaman, terutama ketika volume serangan terus meningkat.

Di sisi lain, Fortinet juga menyoroti ancaman baru dari serangan yang memanfaatkan AI. Sebanyak 69 persen organisasi menyatakan khawatir terhadap serangan yang menggunakan teknologi tersebut. Edwin memperingatkan, pelaku kejahatan siber kini memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan dan efektivitas serangan, meski teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk memperkuat pertahanan.

VP of Marketing and Communications APAC Fortinet, Rashish Pandey, menekankan bahwa penerapan AI untuk deteksi otomatis memerlukan fondasi data yang kuat dan terintegrasi. Menurutnya, tanpa integrasi yang memadai, penggunaan AI justru berisiko menambah kompleksitas dan menghadirkan tantangan baru bagi tim keamanan.

“Tanpa integrasi, AI justru berisiko memperbesar kompleksitas dan menambah tantangan baru bagi tim keamanan,” kata Rashish Pandey.