BERITA TERKINI
Etika Pengembangan Teknologi dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits

Etika Pengembangan Teknologi dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits

Perkembangan teknologi yang kian cepat telah mengubah banyak aspek kehidupan, mulai dari cara bekerja, belajar, berbelanja, hingga berbagi informasi. Di tengah arus kemajuan itu, sebuah kajian menyoroti pentingnya menempatkan teknologi dalam kerangka etika yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits, agar inovasi tidak hanya mengejar kecanggihan, tetapi juga membawa kemaslahatan dan menghindari mudarat.

Dalam perspektif Islam, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus ditolak. Al-Qur’an dan Hadits justru mendorong umat untuk berpikir, meneliti, serta memanfaatkan akal. Namun, kemajuan tersebut dinilai perlu diarahkan pada tujuan yang benar, dengan menempatkan nilai kemanusiaan dan spiritual sebagai pertimbangan dalam pengembangan dan pemanfaatannya.

Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi. Konsep ini dipahami bukan sekadar gelar, melainkan amanah untuk mengelola dan menjaga kehidupan. Salah satu rujukan yang dikemukakan adalah firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 30: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Ayat ini dipakai untuk menegaskan bahwa kemampuan manusia menciptakan dan mengembangkan teknologi melekat dengan tanggung jawab atas dampaknya.

Dengan demikian, teknologi diposisikan sebagai bagian dari amanah. Inovasi semestinya membantu kehidupan manusia dan mendukung tatanan peradaban, bukan menjadi ancaman yang merusak lingkungan, kesehatan, atau tatanan sosial. Karena itu, pengembang teknologi didorong untuk mempertimbangkan dampak terhadap manusia, lingkungan, serta nilai moral.

Kajian tersebut juga mengaitkan amanah ilmu dan karya manusia dengan QS. Saba ayat 13: “Beramallah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur. Dan sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur.” Ayat ini dipahami sebagai pengingat bahwa kerja dan karya, termasuk dalam bentuk teknologi, idealnya menjadi wujud syukur yang diwujudkan melalui pemanfaatan kemampuan untuk memakmurkan, bukan membahayakan.

Urgensi etika dinilai semakin besar karena teknologi kini menjadi bagian dari hampir seluruh aktivitas, seperti komunikasi, pendidikan, pekerjaan, perdagangan, hingga kesehatan. Perubahan cepat membawa manfaat, tetapi juga berpotensi memunculkan masalah jika tidak diimbangi bimbingan moral. Dalam konteks ini, nilai-nilai Islam dipandang dapat berperan sebagai pemandu agar teknologi digunakan untuk kebaikan dan mencegah kerusakan.

Sejumlah risiko yang disebutkan terkait penyalahgunaan teknologi antara lain peretasan data, penyebaran berita palsu, penipuan online, kekerasan siber, dan pencurian identitas. Prinsip “lā darar wa la dirar” yang dipahami sebagai larangan menyakiti diri sendiri maupun orang lain dijadikan acuan bahwa teknologi semestinya melindungi manusia, bukan menimbulkan bahaya fisik maupun mental.

Selain itu, perhatian juga diberikan pada isu martabat dan privasi di ruang digital. Kemudahan akses dan penyebaran data membuat informasi pribadi rentan disalahgunakan. Tanpa adab, teknologi dapat dipakai untuk memata-matai, menyebarkan aib, atau mengontrol seseorang secara tidak manusiawi. Dalam pembahasan tersebut, ditekankan bahwa ajaran Al-Qur’an dan Hadits melarang tindakan yang mengarah pada pencurian informasi pribadi serta penyebaran kelemahan orang lain.

Keseluruhan gagasan itu mengarah pada kesimpulan bahwa keberhasilan teknologi tidak semata diukur dari tingkat kecanggihannya. Teknologi dinilai berhasil ketika tetap menghargai martabat manusia dan memberikan manfaat sosial. Karena itu, pengembangan teknologi perlu diiringi nilai kejujuran, tanggung jawab, perlindungan privasi, kepedulian terhadap masyarakat, serta perhatian pada lingkungan.

Pada akhirnya, kajian ini menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan ajaran Islam tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika inovasi dikembangkan dalam koridor etika. Teknologi dipandang sebagai sarana kebaikan apabila diletakkan sebagai amanah, sehingga kemajuan yang dihasilkan tidak hanya canggih, tetapi juga adil, manusiawi, dan membawa kemaslahatan.