Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dinilai telah melampaui sekadar wacana teknologi dan kini memengaruhi cara manusia berkomunikasi, memproduksi informasi, hingga membentuk opini publik. Situasi ini membuat batas antara fakta dan manipulasi kian tipis, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai etika dan perlindungan hukum.
Dalam praktiknya, AI memungkinkan otomatisasi produksi konten, personalisasi pesan, serta penciptaan realitas sintetis seperti deepfake. Kemudahan tersebut membuka peluang bagi industri media dan komunikasi, namun juga membawa risiko baru, mulai dari disinformasi hingga pelanggaran privasi.
Sejumlah pihak menilai tantangan itu membutuhkan pendekatan yang tidak hanya teknologis, tetapi juga normatif. Perspektif etika dipandang penting agar pemanfaatan AI tetap berpijak pada nilai kebenaran, transparansi, dan tanggung jawab. Di saat yang sama, kerangka hukum dituntut lebih adaptif untuk mengimbangi laju inovasi.
Kesadaran atas kompleksitas tersebut mendorong penyelenggaraan dialog publik, salah satunya melalui talkshow bertajuk “AI untuk Anak Bangsa” yang digelar Unhas TV bekerja sama dengan TV Tempo. Kegiatan ini berlangsung di Studio Utama Unhas TV, Gedung BRI Microfinance Lantai 2, pada Senin, 20 April 2026.
Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. menyampaikan perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai ruang produksi pengetahuan sekaligus penjaga nilai. Menurutnya, Unhas menempatkan literasi digital sebagai bagian penting dalam membekali mahasiswa menghadapi disrupsi teknologi, dengan menekankan perlunya keseimbangan antara penguasaan teknologi dan kesadaran etis. “Mahasiswa sebagai generasi muda harus mampu memahami dan memanfaatkan teknologi ini secara bijak untuk masa depan,” ujar Prof. Jamaluddin Jompa.
Dari sisi industri media, Direktur TV Tempo Anton Aprianto menilai transformasi berbasis AI merupakan keniscayaan. Ia menekankan adaptasi teknologi perlu berjalan seiring peningkatan literasi publik dan kesadaran kolektif dalam menyikapi disrupsi. “AI memiliki banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan yang harus dipahami bersama. Melalui forum ini, kami ingin membangun kesadaran publik yang lebih luas,” kata Anton.
Talkshow kemudian dilanjutkan dengan paparan narasumber, yakni Prof. Yudho Giri Sucahyo, S.Kom., M.Kom., Ph.D., CDPSE, CEH, CISA, CISM (Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia), Dr. Hasrullah, MA (Dosen Ilmu Komunikasi), serta M. Reza Suarga (kreator konten AI). Para narasumber menyoroti pesatnya perkembangan AI yang disebut telah ada sejak 1980-an, namun baru mengalami perkembangan signifikan dan digunakan secara luas pada era digital saat ini.