Sebuah chatbot AI besutan xAI, Grok, dilaporkan berhasil ditipu hingga memindahkan aset kripto senilai sekitar 200.000 dollar AS atau setara Rp 3,4 miliar. Aksi tersebut diduga dilakukan oleh seorang pengguna yang disebut berasal dari Indonesia dan sebelumnya menggunakan akun X dengan handle @Ilhamrfliansyh, yang kini tidak dapat diakses.
Kasus ini menyita perhatian karena pelaku diduga memanfaatkan pesan tersembunyi dalam kode Morse untuk mengecoh sistem AI. Insiden itu melibatkan dua sistem AI, yakni Grok dan Bankrbot, sebuah sistem perdagangan otomatis yang memiliki akses langsung ke dompet kripto digital. Keduanya beroperasi di jaringan blockchain Base.
Serangan disebut berlangsung bertahap. Pertama, pelaku mengirimkan NFT berjudul “Bankr Club Membership” ke dompet Grok. Langkah ini diduga membuat Grok memperoleh izin tambahan di sistem Bankrbot, termasuk kemampuan untuk melakukan transaksi aset kripto.
Setelah itu, pelaku meminta Grok menerjemahkan sebuah pesan dalam kode Morse yang tampak biasa. Namun, di dalamnya disebut terselip instruksi untuk memindahkan miliaran token DRB ke alamat dompet tertentu. Karena sistem menganggap hasil terjemahan tersebut sebagai perintah yang sah, Bankrbot kemudian mengeksekusi transaksi, sehingga aset berpindah tangan.
Dalam laporan tersebut, pelaku disebut berhasil mengantongi sekitar 3 miliar token DRB dengan nilai sekitar 200.000 dollar AS. Token itu kemudian dijual di pasar kripto dan memicu gejolak harga token DRB dalam waktu singkat.
Meski sejumlah pengguna di X mengaitkan akun yang disebut terlibat dengan Indonesia berdasarkan bahasa yang digunakan dan interaksi di komunitas kripto lokal, identitas asli pelaku hingga kini belum dapat dipastikan.
Insiden ini memunculkan kekhawatiran baru terkait keamanan “AI agent”, yakni sistem AI yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga dapat menjalankan tindakan nyata seperti transaksi keuangan dan pengelolaan aset digital. Economic Times menilai peristiwa ini menunjukkan risiko ketika AI diberi akses langsung ke sistem finansial tanpa pengamanan yang memadai.
Dalam kasus ini, kemampuan Grok mengeksekusi perintah dari hasil terjemahan tanpa verifikasi lanjutan disebut menjadi celah yang dimanfaatkan. Sejumlah pakar keamanan siber sebelumnya telah memperingatkan ancaman serupa yang dikenal sebagai serangan prompt injection, yaitu teknik menyisipkan instruksi tersembunyi untuk memanipulasi perilaku AI, terutama ketika AI terhubung langsung dengan transaksi keuangan.