Chatbot AI Grok milik perusahaan xAI dilaporkan berhasil dimanipulasi hingga memicu transfer aset kripto senilai sekitar 200.000 dollar AS atau setara Rp 3,4 miliar. Aksi tersebut diduga dilakukan oleh pengguna asal Indonesia yang aktif di platform X dengan handle @Ilhamrfliansyh, namun akun tersebut kini telah dihapus.
Insiden ini disebut melibatkan dua sistem AI, yakni Grok dan Bankrbot, sebuah sistem perdagangan otomatis yang memiliki akses ke dompet kripto digital. Informasi ini dilaporkan Dexerto dan dikutip KompasTekno pada Kamis (7/5/2026).
Menurut laporan tersebut, pelaku diduga memperoleh sekitar 3 miliar token DRB dengan nilai sekitar 200.000 dollar AS melalui jaringan blockchain Base. Transfer terjadi setelah AI menjalankan perintah secara otomatis.
Rangkaian serangan disebut berlangsung dalam beberapa tahap. Pertama, pelaku mengirim NFT “Bankr Club Membership” ke dompet Grok. Langkah ini disebut membuat AI mendapatkan izin tambahan di sistem Bankrbot, termasuk kemampuan melakukan transaksi dan pertukaran aset kripto.
Berikutnya, pelaku meminta Grok menerjemahkan pesan dalam kode Morse yang tampak biasa. Namun, di dalam kode tersebut diduga tersisip instruksi tersembunyi agar AI mengirim miliaran token DRB ke alamat dompet tertentu. Karena sistem menganggap hasil terjemahan itu sebagai perintah yang sah, Bankrbot kemudian menjalankan transaksi dan mentransfer token ke dompet penerima melalui jaringan Base.
Tak lama setelah token diterima, aset tersebut dilaporkan langsung dijual di pasar kripto. Penjualan dalam jumlah besar ini disebut sempat memicu gejolak harga token DRB dalam waktu singkat.
Di X, sejumlah pengguna mengaitkan akun yang diduga pelaku dengan Indonesia berdasarkan bahasa yang digunakan serta interaksinya di komunitas kripto lokal. Meski demikian, identitas asli pelaku belum diketahui secara pasti.
Peristiwa ini memunculkan kekhawatiran terkait keamanan AI agent, yakni sistem AI yang tidak hanya menjawab pertanyaan seperti chatbot, tetapi juga dapat menjalankan tindakan langsung di komputer, server, atau dompet digital. Economic Times menilai insiden tersebut menunjukkan risiko ketika AI diberi akses langsung ke sistem finansial dan aset digital tanpa pembatasan yang ketat.
Kasus ini juga kembali menyoroti ancaman “prompt injection”, teknik menyisipkan instruksi tersembunyi untuk memanipulasi perilaku AI. Pakar keamanan siber telah lama memperingatkan risiko tersebut, dan insiden ini dinilai menjadi contoh nyata, terutama karena melibatkan sistem otomatis yang terhubung dengan transaksi keuangan.