Mahasiswa Program Studi Sains Data Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2024, Anthony Tjandra Santoso, meraih Juara 3 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (PILMAPRES) UB 2026 kategori program sarjana. Ajang tersebut berlangsung dan berakhir pada awal Maret 2026, dengan Anthony mewakili Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UB.
Saat ditemui di Gedung MIPA Center, Anthony membagikan pengalamannya mengikuti PILMAPRES sekaligus menjelaskan fokus riset yang ia kembangkan. Penelitiannya berada pada ranah data-driven education dan mengangkat gagasan precision mentoring untuk pengembangan kompetensi guru.
Menurut Anthony, pelatihan guru selama ini cenderung bersifat seragam atau one-size-fits-all, padahal kebutuhan dan kesenjangan kompetensi tiap guru berbeda. Melalui pendekatan berbasis data—seperti clustering kompetensi guru, analisis pembelajaran, dan gap analysis—ia mencoba membangun sistem yang dapat memberikan pengembangan yang dipersonalisasi agar lebih adaptif dan efektif.
“Sederhananya saya ingin mengubah pelatihan guru dari yang umum menjadi lebih personal dan berbasis data, agar dampaknya benar-benar terasa di kualitas pendidikan Indonesia,” ujar Anthony.
Anthony menyebut motivasi terbesarnya datang dari keinginan untuk terus berkembang dan memaksimalkan potensi dalam momentum yang terbatas. Ia menilai PILMAPRES sebagai kesempatan langka karena hanya dapat diikuti dua kali selama masa perkuliahan, yaitu pada semester 3 dan semester 5. Karena itu, ia memilih mengikuti seleksi sejak semester 3 dan berhasil melangkah hingga menjadi finalis tingkat universitas, bersaing dengan mahasiswa dari tingkat di atasnya.
Ia juga menilai lingkungan akademik turut mendorong prosesnya. Berada di antara mahasiswa berprestasi lainnya membuatnya terpacu meningkatkan kapasitas diri. Dukungan orang tua, dosen, mentor, serta inspirasi dari kakak tingkat juga ia sebut berperan penting.
Dalam proses persiapan, Anthony mengingat pesan dari Kak David—Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Mahasiswa Berprestasi Nasional 1 Tahun 2024): “When you do something, you shoot for the moon. And even if you fall, you will land among the stars.” Pesan tersebut, menurutnya, menguatkan prinsip dan ambisinya.
“Saya tidak ingin hanya hadir dalam momentum ini, tetapi benar-benar all out dan memaksimalkannya,” ujarnya.
Untuk menjelaskan risetnya kepada masyarakat luas, Anthony mengibaratkan sistem yang ia kembangkan seperti dokter yang tidak memberikan satu solusi untuk semua pasien, melainkan berdasarkan diagnosis masing-masing individu. Dengan cara serupa, sistem yang dibangun memanfaatkan data untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik setiap guru dan menyusun pengembangan yang sesuai.
Ia juga menekankan pentingnya mengubah data menjadi cerita melalui visualisasi dan contoh nyata di lapangan, agar publik tidak hanya melihat angka, tetapi memahami maknanya. Bagi Anthony, data bukan sekadar angka, melainkan representasi kebutuhan manusia.
Dalam keseharian, Anthony menerapkan manajemen waktu berbasis prioritas dan energi. Ia membagi aktivitas antara akademik, riset, pengembangan diri, dan istirahat secara seimbang. Menurutnya, kunci utama bukan sekadar sibuk, melainkan memastikan setiap aktivitas memiliki arah dan dampak.
“Saya tidak mencari waktu luang, tetapi menciptakan waktu prioritas,” katanya.
Anthony juga berpesan agar mahasiswa tidak menunggu merasa siap untuk mencoba. Menurutnya, proses mencoba justru membentuk diri, termasuk ketika harus memulai dari ketidaksempurnaan dan belajar dari pengalaman langsung.
“Prestasi itu bukan soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling konsisten berstrategi, berkolaborasi, dan membawa ilmunya menjadi dampak nyata. Jangan berjalan sendiri. Kolaborasi itu mempercepat pertumbuhan, dan empati membuat apa yang kita kerjakan jadi lebih relevan,” ujar Anthony.
Ia menambahkan, dirinya terbuka untuk berdiskusi maupun berkolaborasi dengan mahasiswa lain. Anthony berharap dapat menjaga konsistensi dalam berprestasi dan melangkah lebih jauh pada kesempatan berikutnya.