Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui kunjungan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF) Universitas Sangga Buana ke Kawasan Sains dan Teknologi Samaun Samadikun, Bandung, Kamis (16/4). Kegiatan ini menjadi ruang interaksi langsung antara mahasiswa dan peneliti BRIN.
Kunjungan tersebut ditujukan untuk memperluas wawasan riset serta pemahaman aplikatif mahasiswa di bidang teknologi informasi, khususnya kecerdasan artifisial (AI), keamanan siber, dan sains data. Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Sangga Buana, Djoko Pitoyo, menilai pengalaman langsung penting untuk membekali mahasiswa menghadapi tantangan industri. Ia berharap mahasiswa memperoleh gambaran konkret untuk pengembangan penelitian tugas akhir sekaligus meningkatkan kapasitas dan relevansi keilmuan.
Dalam sesi pemaparan, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Keamanan Siber dan Kecerdasan Buatan dan Sistem (PRKAKS) BRIN, Rika Sustika, memperkenalkan peran riset keamanan siber di BRIN. Ia menjelaskan PRKAKS memiliki tiga kelompok riset utama, yakni Cyber Security, Computer Vision and Image Processing, serta Machine Learning, yang ditujukan untuk mendukung terwujudnya ekosistem siber Indonesia yang aman dan tangguh.
Rika juga menyoroti perkembangan pesat machine learning dan deep learning yang kini diterapkan di berbagai sektor, mulai dari pertanian, transportasi, energi, kesehatan, hingga kebencanaan. Menurutnya, pemanfaatan teknologi tersebut dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam pengambilan keputusan berbasis data.
Sementara itu, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN, Rio Nurtantyana, menekankan pentingnya pengelolaan data di era digital. PRSDI, yang terdiri dari lima kelompok riset, mengembangkan metode dan teknologi untuk mendukung pemanfaatan data di berbagai sektor, termasuk pemerintahan digital dan ilmu pengetahuan.
Rio yang tergabung dalam Kelompok Riset Interaksi Manusia Komputer dan Visualisasi (HCI) memaparkan inovasi berbasis teknologi imersif seperti Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR). Inovasi yang disampaikan antara lain AViRSinami untuk simulasi bencana tsunami, Smart Research Environment (SRE) berbasis AI untuk mendukung penulisan ilmiah, serta pengembangan metaverse kawasan sains dan teknologi untuk simulasi laboratorium digital.
Selain itu, ia menyebut pengembangan platform GANA untuk pengenalan budaya Indonesia melalui game, serta aplikasi edukatif seperti AR untuk pembelajaran geometri dan simulasi fasilitas nuklir. Inovasi tersebut dirancang untuk menciptakan interaksi yang lebih intuitif antara manusia dan teknologi sekaligus meningkatkan literasi sains dan teknologi di masyarakat.
Menutup kegiatan, Rio mengajak mahasiswa terlibat dalam ekosistem riset BRIN melalui berbagai skema pengembangan kapasitas sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjembatani teori akademik dengan praktik riset, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang siap berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.