BERITA TERKINI
Ahli Pertahanan Peringatkan Risiko Keamanan dari Aplikasi Pelacak Kebugaran di Fasilitas Militer Singapura

Ahli Pertahanan Peringatkan Risiko Keamanan dari Aplikasi Pelacak Kebugaran di Fasilitas Militer Singapura

Para ahli pertahanan memperingatkan bahwa aplikasi pelacak kebugaran seperti Strava dapat menimbulkan risiko keamanan bagi pangkalan militer di Singapura. Risiko tersebut dinilai bukan semata-mata karena aplikasi dapat mengungkap lokasi, melainkan karena data yang terekam berpotensi memperlihatkan kebiasaan harian dan pola pergerakan personel militer.

Peringatan ini muncul di tengah sejumlah kasus kebocoran informasi militer di berbagai negara yang dikaitkan dengan penggunaan aplikasi pelacak kebugaran. Bulan lalu, lokasi kapal induk Prancis dilaporkan terungkap setelah seorang perwira merekam aktivitas jogging di Strava. Dalam kasus lain yang lebih baru, seorang tentara Inggris disebut secara tidak sengaja mengungkap lokasi pangkalan nuklir sensitif melalui cara serupa.

Di Singapura, data peta panas global Strava menunjukkan adanya rute pergerakan di dalam beberapa fasilitas militer, termasuk kamp Sungei Gedong, pangkalan angkatan laut Changi, dan pangkalan udara Sembawang. Para ahli menilai, di negara yang sangat urban seperti Singapura, lokasi pangkalan militer pada umumnya dapat disimpulkan dari data yang tersedia untuk umum. Karena itu, perhatian utama diarahkan pada potensi terbukanya “pola kehidupan”, seperti frekuensi aktivitas, rute perjalanan yang berulang, atau perkiraan jumlah personel di suatu area.

Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) menyatakan telah menyadari risiko tersebut dan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk memastikan keamanan. MINDEF juga menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan penilaian dan menemukan data dari pelacak kebugaran tidak secara signifikan meningkatkan risiko dibandingkan sumber informasi publik lainnya.

Meski demikian, MINDEF menekankan bahwa langkah pengendalian tetap akan diterapkan dalam kondisi tertentu. Di antaranya, mewajibkan perangkat disimpan di area yang ditentukan sebelum pelaksanaan operasi atau pelatihan yang bersifat rahasia, guna mencegah kebocoran informasi.

Sejumlah ahli menyarankan agar militer tidak menerapkan larangan total, melainkan menggunakan pendekatan manajemen risiko terhadap penggunaan aplikasi pelacak kebugaran. Mereka mengingatkan bahwa pengumpulan data dari sumber publik dapat membantu aktor bermusuhan, termasuk organisasi teroris atau kejahatan terorganisir, untuk membangun gambaran yang lebih rinci mengenai aktivitas di dalam fasilitas militer.

Karena itu, personel militer disarankan menggunakan aplikasi secara lebih hati-hati, antara lain dengan menyesuaikan pengaturan privasi, menyembunyikan titik awal dan akhir perjalanan, mematikan layanan lokasi GPS, serta menghindari membagikan informasi yang dapat dikaitkan dengan lokasi kerja.