BERITA TERKINI
Adopsi AI di Tiongkok Kian Cepat, AS Masih Bergulat dengan Perdebatan

Adopsi AI di Tiongkok Kian Cepat, AS Masih Bergulat dengan Perdebatan

Persaingan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global disebut memasuki fase baru. Jika sebelumnya kompetisi lebih banyak ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI paling canggih, kini fokusnya bergeser pada negara mana yang paling cepat mengintegrasikan teknologi tersebut ke kehidupan masyarakat dan dunia usaha. Dalam konteks ini, Tiongkok dinilai melaju lebih agresif dibandingkan Amerika Serikat (AS).

Di AS, AI masih memicu perdebatan panjang terkait ancaman terhadap lapangan kerja, keamanan data, hingga etika teknologi. Sementara itu di Tiongkok, AI semakin cepat dipakai dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari memesan perjalanan, membeli makanan, memanggil kendaraan daring, hingga membantu pekerjaan administrasi dan layanan kesehatan.

Fenomena tersebut, seperti dilaporkan Fortune pada Kamis (7/5/2026), tampak dari antrean puluhan warga di depan kantor perusahaan internet seluler di Beijing untuk mendapatkan bantuan memasang asisten AI “agentic” bernama OpenClaw di laptop mereka. Peristiwa serupa juga terjadi di Shenzhen pada Maret lalu, ketika para insinyur membantu masyarakat mengoperasikan teknologi itu.

Seorang manajer sumber daya manusia berusia 41 tahun, Sun Lei, mengatakan ia khawatir tertinggal dalam perkembangan teknologi. Ia berharap OpenClaw dapat membantu proses pencarian dan penyaringan lamaran kerja dari berbagai platform rekrutmen. Situasi tersebut mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat Tiongkok terhadap AI: dari teknologi eksperimental menjadi alat produktivitas harian.

Laporan China Internet Network Information Center mencatat lebih dari 600 juta warga Tiongkok telah menggunakan AI generatif hingga Desember 2025. Angka ini disebut meningkat 142 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, data OpenRouter menunjukkan penggunaan token mingguan model AI asal Tiongkok telah melampaui model buatan AS, yang menandakan tingginya intensitas penggunaan teknologi tersebut.

Di Shanghai, pensiunan insinyur teknologi informasi Jason Tong mengaku menggunakan chatbot AI seperti Doubao dan Kimi untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Ia juga memanfaatkan layanan pemantauan gula darah berbasis AI guna mendapatkan saran kesehatan personal secara cepat. Menurutnya, penerapan AI secara luas dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dihindari. Ia mengibaratkan perubahan itu seperti kereta kuda yang pada akhirnya digantikan kereta api.

Perkembangan ini turut didorong perusahaan teknologi besar Tiongkok seperti Tencent, Alibaba, dan Baidu yang berlomba mengintegrasikan AI ke dalam ekosistem digital mereka. Tencent, misalnya, menyematkan OpenClaw ke WeChat, aplikasi serbaguna yang digunakan untuk berkirim pesan, melakukan pembayaran, hingga memesan makanan. Alibaba juga mulai memasukkan AI berbasis agen ke dalam sistem operasional perusahaan.

Peneliti ekonomi dan teknologi dari Asia Society Policy Institute, Lizzi Lee, menilai arah persaingan AI global kini mengalami perubahan mendasar. Ia menyebut persaingan bergerak dari adu model menuju adu ekosistem. Menurutnya, pengguna di Tiongkok kini berperan sebagai “penguji langsung dalam skala besar” yang mempercepat pengembangan teknologi AI secara nyata di lapangan.

OpenClaw sendiri dikembangkan pengembang perangkat lunak asal Austria, Peter Steinberger. Namun di Tiongkok, teknologi tersebut berkembang pesat karena dinilai mampu menyelesaikan tugas kompleks secara otomatis. Mahasiswa asal Makau, Zhao Yikang, mengaku menggunakan AI untuk membuat video promosi hingga mengelola akun media sosial saat magang di perusahaan properti di Zhuhai. Ia menyebut AI dapat memahami sesuatu dalam hitungan detik, sementara pengguna cukup memberi arahan tentang apa yang harus dikerjakan.

Zhao juga meminta AI membuat situs untuk perusahaan fotografi yang sedang ia siapkan setelah lulus. Dalam waktu sekitar 10 menit, sistem tersebut menghasilkan situs yang dapat langsung digunakan dengan biaya kurang dari 5 yuan atau sekitar Rp 12.710, dengan kurs Rp 2.542 per yuan.