Inovasi teknologi komunikasi kebencanaan lahir dari Kota Malang. Seorang warga bernama Arya Dega bersama komunitas yang ia dirikan mengembangkan sistem notifikasi gempa berbasis jaringan mesh yang tetap dapat berfungsi meski tanpa internet maupun sinyal seluler.
Sistem tersebut diberi nama MeshNode WRS (Warning Relay System). MeshNode WRS dirancang sebagai solusi alternatif agar informasi kebencanaan tetap tersampaikan kepada masyarakat ketika jaringan komunikasi konvensional mengalami gangguan, terutama dalam situasi darurat.
Arya Dega, pendiri MeshNode Indonesia, menegaskan bahwa MeshNode WRS bukan alat peringatan dini gempa. Sistem ini berperan sebagai sarana distribusi informasi resmi setelah data dirilis oleh pihak berwenang.
“Sistem ini bukan peringatan dini gempa. Informasi dikirim setelah data resmi dirilis oleh BMKG. Fokus kami adalah memastikan informasi tetap bisa diterima meskipun jaringan internet atau seluler terganggu,” kata Arya.
Dalam operasionalnya, MeshNode WRS mengambil data gempa resmi dari BMKG, lalu menyebarkannya kepada pengguna melalui jaringan mesh berbasis teknologi meshtastic. Teknologi ini memungkinkan perangkat saling terhubung secara langsung (device-to-device) tanpa bergantung pada BTS maupun operator telekomunikasi.
Selama masih ada node yang aktif di dalam jaringan, informasi akan diteruskan dari satu perangkat ke perangkat lainnya. Skema tersebut membuat sistem tetap berjalan meski koneksi internet terputus total. Keunggulan ini dinilai relevan untuk kondisi bencana alam ketika jaringan komunikasi kerap mengalami gangguan.
Selain informasi gempa, MeshNode WRS juga dapat menyertakan data potensi tsunami berdasarkan rilis resmi BMKG.
Pengembangan MeshNode WRS dilakukan melalui kolaborasi dengan sejumlah pengembang dari berbagai daerah, di antaranya Indra Lesmana dari Bandung, Budi Kurniawan dari Padang, serta Yoga Sakti dari Klaten. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan distribusi data berbasis jaringan mesh yang bersifat terbuka dan dapat dimanfaatkan oleh komunitas luas.
MeshNode Indonesia juga membuka peluang partisipasi publik bagi masyarakat yang ingin ikut mengembangkan maupun menggunakan sistem tersebut. Diskusi teknis dan panduan penggunaan dapat diakses melalui forum Discord bertajuk Ruang Diskusi Bersama, khususnya pada kanal #server-mqtt-map. Pembaruan terkait pengembangan proyek juga dibagikan melalui akun Instagram resmi komunitas.
MeshNode Indonesia menilai kehadiran solusi alternatif komunikasi seperti ini penting untuk memperkuat ketahanan komunikasi masyarakat. “Dengan hadirnya MeshNode WRS, kami berharap informasi kebencanaan tetap dapat dijangkau masyarakat luas, meski dalam kondisi darurat,” ujar Arya.