Wakil Menteri Keuangan Le Tan Can menegaskan pentingnya perguruan tinggi memperluas jejaring dan mengintegrasikan sumber daya riset guna mendorong inovasi, seiring percepatan pembangunan negara berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, transformasi digital, dan integrasi internasional. Menurutnya, universitas perlu terhubung erat dengan lembaga penelitian, organisasi sains dan teknologi, dunia usaha, pemerintah daerah, serta kebutuhan praktis perekonomian.
Pernyataan tersebut disampaikan Le Tan Can pada upacara penandatanganan kerja sama antara Universitas Keuangan dan Pemasaran dengan organisasi ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai wilayah, yang berlangsung pada 24 April.
Le Tan Can mengatakan, di era ekonomi berbasis pengetahuan dan persaingan global, posisi universitas tidak lagi terutama ditentukan oleh besarnya jumlah mahasiswa atau banyaknya program pelatihan. Ukuran yang lebih menentukan, menurut dia, adalah kualitas fakultas, kapasitas penelitian, koneksi interdisipliner, serta kemampuan universitas berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan praktis berskala besar.
Ia memperingatkan, universitas yang lambat berinovasi dalam cara berpikir, lambat memperluas kerja sama, dan lambat meningkatkan kemampuan penelitian pada akhirnya akan mempersempit ruang pengembangan mereka sendiri.
Le Tan Can juga menekankan agar implementasi kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan, melainkan harus substantif, efektif, dan menghasilkan keluaran nyata. Ia mendorong agar riset di kampus dikaitkan dengan kebutuhan pembangunan negara, kebutuhan bisnis, dan kebutuhan daerah. Riset interdisipliner perlu dipromosikan dengan fokus pada isu-isu utama, isu-isu baru, serta persoalan yang muncul dari realitas praktis.
Selain penguatan riset, pengembangan kapasitas dosen disebut sebagai faktor kunci. Universitas didorong memanfaatkan jejaring kolaboratif untuk meningkatkan kemampuan tenaga pengajar, terutama dosen muda, melalui keterlibatan dalam kelompok riset bersama, akses ke para ahli, serta peningkatan publikasi internasional. Pada saat yang sama, pelatihan, penelitian ilmiah, dan inovasi dinilai perlu diintegrasikan secara erat untuk membangun ekosistem akademik yang terbuka.
Dalam kegiatan tersebut, Universitas Keuangan dan Pemasaran menandatangani nota kerja sama dengan sembilan organisasi ilmiah dan teknologi, yakni Institut Ilmu Hayati, Institut Teknologi Maju, Institut Ilmu Sumber Daya Air Vietnam, Institut Ekonomi dan Ilmu Sosial Kota Can Tho, Institut Teknologi Informasi, Institut Teknik Kelautan, Institut Ilmu Kehutanan Selatan, Institut Pengujian Obat Kota Ho Chi Minh, serta Cabang Selatan Institut Kebudayaan, Seni, Olahraga, dan Pariwisata.
Kerja sama ini difokuskan pada penelitian ilmiah, pertukaran akademik, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan jaringan ahli. Lembaga-lembaga yang terlibat disebut memiliki keahlian riset dan sumber daya akademik yang penting dalam ekosistem sains, teknologi, dan inovasi nasional.
Pada kesempatan yang sama, 10 unit menandatangani perjanjian untuk bergabung dengan Aliansi Lembaga Penelitian di Delta Mekong. Aliansi yang didirikan pada Juni 2025 itu bertujuan menghubungkan lembaga-lembaga penelitian, mendorong kerja sama interdisipliner, serta menciptakan solusi sains dan teknologi yang aplikatif bagi pembangunan berkelanjutan di Delta Mekong.
Profesor Madya Doktor Vu Tuan Hung, Ketua Bersama Aliansi Lembaga Penelitian Delta Mekong sekaligus Direktur Institut Ilmu Sosial Vietnam Selatan, menilai peran ilmu pengetahuan dan inovasi semakin penting di tengah tantangan kawasan, seperti perubahan iklim, intrusi air asin, penurunan permukaan tanah, dan transformasi model pembangunan. Ia menambahkan, perluasan keanggotaan aliansi tidak hanya bermakna dari sisi skala, tetapi juga memperkuat sumber daya intelektual, kapasitas, dan tindakan kolektif untuk pelatihan, penelitian, serta pengembangan teknologi dalam konteks baru.