Universitas Brawijaya (UB) memperkuat hilirisasi riset melalui peluncuran produk personal care anak bernama BOUMI. Inovasi ini disebut menjadi contoh penerapan model kolaborasi Penta Helix ABCGM (Academics, Business, Community, Government, Media) dalam pengembangan produk berbasis riset.
Wakil Rektor Bidang V UB yang membidangi Riset, Inovasi, dan Kerja Sama, Prof. Unti Ludigdo, mengatakan BOUMI tidak sekadar produk, melainkan hasil sinergi lintas sektor yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Kami tidak ingin riset kami hanya dibaca, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata Prof. Unti, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, dari sisi akademisi, UB berperan dalam penyediaan riset dasar, formulasi produk, hingga pengelolaan kekayaan intelektual melalui Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi. Dari sektor bisnis, Cedefindo dari Martha Tilaar Group memastikan proses produksi memenuhi standar Good Manufacturing Practice (GMP) agar produk dinilai layak bersaing di pasar nasional hingga ekspor.
Pada pilar komunitas, UB bekerja sama dengan Batu Love Garden (Jatim Park) sebagai jalur distribusi yang menyasar segmen wisata keluarga. Kanal ini dinilai selaras dengan target konsumen BOUMI, yakni orang tua yang memperhatikan kualitas produk anak.
Sementara itu, peran pemerintah disebut diwakili oleh Brawijaya Multi Usaha (BMU UB) yang merancang skema revenue sharing antara universitas, mitra industri, dan peneliti. Skema tersebut ditujukan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem inovasi dalam jangka panjang. Adapun media dipandang penting untuk memperluas jangkauan informasi agar inovasi lokal lebih dikenal masyarakat.
Prof. Unti menambahkan, strategi pengembangan BOUMI tidak hanya menyasar pasar internal kampus, tetapi juga pasar eksternal sebagai uji daya saing produk.
“Kalau kita hanya kuat di internal, kita akan menjadi jago kandang. Justru ketika produk ini mampu bersaing di luar, maka untuk pasar internal akan jauh lebih mudah,” ujarnya.
Meski demikian, UB menilai potensi pasar internal tetap besar. Dengan jumlah mahasiswa sekitar 70 ribu orang, ditambah keluarga dan jejaringnya, BOUMI disebut memiliki basis konsumen yang kuat sebagai langkah awal pengembangan pasar.
Ke depan, UB juga berencana melibatkan mahasiswa dan alumni sebagai bagian dari ekosistem distribusi. Mereka diharapkan dapat menjadi agen atau distributor di daerah masing-masing untuk memperluas jangkauan produk ke berbagai wilayah di Indonesia.
Terkait persaingan pasar, UB menegaskan BOUMI tidak diposisikan sebagai kompetitor langsung bagi produk yang sudah ada.