Ruang keluarga digambarkan sunyi. Seorang anak duduk bersila di lantai dengan wajah diterangi cahaya kebiruan dari layar tablet, sementara boneka koboi, dinosaurus plastik, dan figur mainan lain tergeletak tak tersentuh di sudut ruangan. Adegan ini menjadi pusat konflik dalam Toy Story 5.
Dalam film terbaru ini, ancaman bagi Woody dan kawan-kawan bukan lagi pengumpul mainan atau kotak penyimpanan berdebu. Mereka berhadapan dengan teknologi—dan kebiasaan anak yang kian terpaku pada gawai.
Sutradara Andrew Stanton mengatakan kepada Empire Magazine pada November 2025 bahwa film tersebut tidak semata-mata menampilkan pertarungan antara mainan dan gadget. Menurutnya, inti cerita justru berada pada “realisasi masalah eksistensial: tak ada lagi yang benar-benar bermain dengan mainan.”
Cerita berangkat ketika Bonnie, pemilik para mainan, menerima perangkat mirip tablet. Jessie, Rex, Forky, serta gengnya harus menghadapi kenyataan bahwa dunia tempat mereka selama ini bermakna telah berubah.
Tema yang diangkat Pixar dinilai dekat dengan kegelisahan banyak orang tua. Psikiater anak sekaligus penulis Why We Suffer and How We Heal, Suzan Song, menilai film ini menyentuh persoalan yang sulit diucapkan banyak keluarga.
“Anak-anak tidak seharusnya tumbuh terutama di dalam dunia algoritmik,” kata Song.
Song menekankan anak membutuhkan ruang untuk merasa bosan, canggung, dan menemukan cara sendiri untuk bersenang-senang. Ia menyamakan otak dengan otot yang perlu dilatih. Tanpa ruang semacam itu, kemampuan sosial dan kreativitas anak, menurutnya, dapat terkikis perlahan.