Masjid Gedhe Mataram Kotagede masih melestarikan tradisi “tidur” sebagai penanda datangnya bulan Ramadan. Tradisi ini bukan bermakna tidur secara harfiah, melainkan prosesi pemukulan bedug yang berfungsi sebagai pemberitahuan kepada masyarakat.
Pada Ramadan tahun ini, tradisi tersebut dilaksanakan pada Selasa (17/2). Pemukulan bedug dilakukan sebelum memasuki waktu salat Ashar, sekitar pukul 15.00.
Ketua II Takmir Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Herlin Susanto, menjelaskan bahwa tradisi tidur pada dasarnya merupakan sarana komunikasi tradisional agar warga sekitar mengetahui bahwa hari berikutnya sudah memasuki Ramadan.
“Tradisi tidur itu sebetulnya kayak pemberitahuan saja. Misalnya sekarang bedug ditabuh, itu memberitahukan bahwa besok sudah mulai puasa,” ujar Herlin.
Menurut Herlin, pemberitahuan lewat suara bedug dulunya sangat penting karena pada masa lalu banyak masyarakat yang belum memiliki alat komunikasi modern seperti saat ini. Selain untuk menyambut awal puasa, tradisi yang sama juga dilakukan pada sore hari menjelang Idul Fitri untuk mengabarkan datangnya hari kemenangan. Ia menegaskan tidak ada perbedaan pola pukulan bedug antara kedua momen besar tersebut.
Secara teknis, prosesi tidur dilakukan sekitar 20 menit sebelum azan Ashar berkumandang. Penabuh bedug memainkan pola ketukan dua secara kontinyu selama durasi itu.
Meski teknologi ponsel kini mendominasi, Herlin menilai tradisi tidur tetap memiliki nilai historis yang kuat, terutama terkait sejarah berdirinya Masjid Mataram Kotagede di atas tanah perdikan Alas Mentaok pada masa Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati.
Herlin juga menyebut sebagian masyarakat di wilayah Kotagede masih mempertahankan tradisi ini dengan berinisiatif memukul bedug. Ia menambahkan, takmir Masjid Mataram Kotagede tidak pernah mewajibkan pelaksanaan prosesi tersebut.