BERITA TERKINI
Toy Story 5 Angkat Konflik Mainan dan Gadget, Soroti Anak yang Kian Jarang Bermain

Toy Story 5 Angkat Konflik Mainan dan Gadget, Soroti Anak yang Kian Jarang Bermain

Ruang keluarga digambarkan sunyi. Seorang anak duduk bersila di lantai, wajahnya diterangi cahaya kebiruan dari layar tablet. Di sudut ruangan, boneka koboi, dinosaurus plastik, dan figur mainan lain tergeletak tak tersentuh. Adegan ini menjadi pusat konflik dalam Toy Story 5, ketika Woody dan kawan-kawan menghadapi musuh yang berbeda dari film-film sebelumnya: teknologi yang membuat anak kian terpaku pada gawai.

Sutradara Andrew Stanton, dalam wawancara dengan Empire Magazine pada November 2025, menyebut film ini bukan sekadar pertarungan antara mainan dan gadget. Ia menekankan adanya “realisasi masalah eksistensial: tak ada lagi yang benar-benar bermain dengan mainan.” Dalam cerita, Bonnie—pemilik mainan—menerima perangkat mirip tablet, memaksa Jessie, Rex, Forky, dan karakter lain berhadapan dengan kenyataan bahwa kebiasaan bermain telah berubah.

Isu yang diangkat Pixar dinilai dekat dengan kegelisahan banyak orang tua di tengah meningkatnya penggunaan layar pada anak. Psikiater anak sekaligus penulis Why We Suffer and How We Heal, Suzan Song, menilai film ini menyentuh persoalan yang sulit diucapkan banyak keluarga. “Anak-anak tidak seharusnya tumbuh terutama di dalam dunia algoritmik,” ujarnya.

Song menekankan pentingnya ruang bagi anak untuk merasakan bosan, canggung, dan menemukan cara sendiri untuk bersenang-senang. Menurutnya, otak perlu “latihan” seperti otot. Jika ruang itu hilang, kemampuan sosial dan kreativitas anak berisiko tergerus perlahan.

Namun, film ini tidak serta-merta dipandang sebagai ajakan untuk menjauhi layar sepenuhnya. Nir Eyal, penulis Indistractable: How to Control Your Attention and Choose Your Life dan mantan dosen di Stanford Graduate School of Business, mengingatkan bahwa melabeli layar sebagai sesuatu yang “jahat” justru bisa membuatnya semakin menarik di mata anak. “Mengatakan pada anak bahwa layar itu buruk tidak membuatnya kurang menarik,” katanya.

Bagi Eyal, jika film ini menyoroti hilangnya permainan bebas dan kebutuhan akan koneksi nyata, hal itu dapat menjadi pembuka percakapan yang baik di rumah. Ia juga menilai teknologi bukan untuk dihapus, melainkan dijadwalkan. Ada perbedaan antara menonton film bersama sebagai kegiatan keluarga dan layar yang menyala tanpa tujuan karena tidak ada pengaturan. Yang pertama merupakan pilihan sadar, sedangkan yang kedua menjadi kebiasaan default saat bosan.

“Duduk bersama, tonton bersama, lalu bicarakan,” ujar Eyal. “Itu screen time yang melayani tujuan manusia.”

Toy Story 5, yang dijadwalkan tayang pada 19 Juni, hadir di tengah perdebatan global soal durasi penggunaan layar. Berbagai studi menunjukkan anak-anak kini menghabiskan berjam-jam per hari di depan layar, baik untuk hiburan maupun pendidikan. Dalam konteks itu, film ini berpotensi menjadi jembatan dialog antara orang tua dan anak—bukan dengan melarang tablet atau sekadar bernostalgia, melainkan dengan menekankan keseimbangan.

Di ruang keluarga yang sama, cahaya layar mungkin tetap menyala. Namun, film ini membayangkan kemungkinan lain: layar menjadi alasan untuk berkumpul, tertawa bersama, lalu berbicara. Dan setelahnya, mungkin sebuah mainan kembali terangkat dari lantai.