Tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) mencatatkan inovasinya dalam program “117 Inovasi Indonesia 2025” yang diselenggarakan Business Innovation Center (BIC). Karya yang diusung mengembangkan teknologi deteksi dini hipotiroid kongenital berbasis metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), yang dinilai berpotensi mendukung skrining kesehatan bayi di Indonesia.
Inovasi tersebut berjudul “Deteksi Dini Hipotiroid Kongenital (HK) Berbasis Antibodi Poliklonal Hasil Induksi Protein Rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH) dengan Metode ELISA.” Penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan metode deteksi yang lebih sensitif dan spesifik terhadap hipotiroid kongenital—gangguan hormon tiroid sejak lahir yang dapat memengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan intelektual apabila tidak terdiagnosis sejak dini.
Tim peneliti multidisiplin yang mengembangkan inovasi ini terdiri dari Prof. Dr. Aulanni’am, drh., DES; Dr. Dyah Kinasih Wuragil, S.Si., MP., M.Sc; Prof. Dr. dr. Achmad Rudijanto, Sp.PD-KEMD; dr. Rulli Rosandi, Sp.PD-KEMD; dr. Andreas Budi Wijaya, M.Biomed, Sp.A; Almas Dwi Khairana, S.Si., M.Si; Wibi Riawan, S.Si., M.Biomed; Dr. rer.pol. Romy Hermawan, S.Sos., M.AP; Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc; Muhammad Fikri Nur, S.Si; Assoc. Prof. Anna Safitri, S.Si., M.Sc., Ph.D; serta Dr. dr. Zulkarnain, M.Sc., AIFO-K.
Program “117 Inovasi Indonesia 2025” merupakan agenda tahunan BIC untuk menjaring dan mengapresiasi inovasi unggulan dari peneliti, akademisi, industri, hingga praktisi di Indonesia. Tahun ini, seleksi dilakukan melalui dua tahapan penilaian daring sepanjang Januari 2026, dengan setiap proposal dievaluasi oleh tiga juri independen.
Dari 182 proposal inovasi yang diajukan sepanjang 2025, sebanyak 55 proposal lolos ke tahap seleksi lanjutan. Setelah penilaian akhir, 51 proposal ditetapkan sebagai inovasi terpilih dalam “117 Inovasi Indonesia 2025”, termasuk inovasi dari tim peneliti UB.
Prof. Dr. Aulanni’am menjelaskan, inovasi ini berfokus pada pengembangan sistem deteksi berbasis antibodi poliklonal yang dihasilkan melalui induksi protein rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH). Antibodi tersebut kemudian diaplikasikan dalam sistem analisis ELISA untuk mendeteksi biomarker gangguan hormon tiroid pada bayi secara lebih akurat.
“Hipotiroid kongenital merupakan salah satu gangguan endokrin yang harus dideteksi sedini mungkin karena berdampak besar terhadap perkembangan fisik dan kognitif anak. Melalui inovasi ini, kami berupaya menghadirkan metode deteksi yang lebih presisi dan berpotensi memperkuat program skrining kesehatan bayi di Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan teknologi berbasis protein rekombinan ini diharapkan menjadi pijakan awal menuju produksi kit diagnostik biomedis hasil riset dalam negeri yang lebih terjangkau dan dapat diterapkan secara luas di berbagai fasilitas layanan kesehatan.
Sementara itu, Ketua Departemen Kimia UB, Assoc. Prof. Anna Safitri, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini mencerminkan kuatnya kolaborasi riset lintas disiplin di UB.
“Riset di Departemen Kimia tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu dasar, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang berdampak langsung di bidang kesehatan. Kami berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan hingga tahap hilirisasi sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Masuknya inovasi ini dalam daftar “117 Inovasi Indonesia 2025” menegaskan peran UB dalam melahirkan inovasi berbasis riset. Inovasi tersebut juga dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem inovasi nasional di bidang kesehatan dan teknologi, terutama dalam menjawab kebutuhan deteksi dini penyakit sejak usia bayi.