BERITA TERKINI
Standar di Media Sosial dan Cara Internet Membentuk Cara Pandang

Standar di Media Sosial dan Cara Internet Membentuk Cara Pandang

Media sosial kerap menampilkan potongan-potongan kehidupan yang tampak sempurna: seseorang membeli rumah di usia muda, influencer membagikan tips kecantikan dengan jutaan penonton, atau kisah sukses lain yang terlihat mudah dicapai. Paparan semacam ini bisa memunculkan tekanan instan, seolah-olah banyak orang melaju jauh lebih cepat, termasuk mereka yang bahkan tidak dikenal secara pribadi.

Seiring waktu, gambaran “kesempurnaan” tersebut dapat berubah menjadi standar yang terasa wajib dipenuhi. Pertanyaannya, mengapa standar semacam itu bisa terbentuk dan memengaruhi cara berpikir?

Dalam kajian komunikasi, profesor George Gerbner bersama Larry Gross pernah mengembangkan konsep yang dikenal sebagai cultivation theory melalui artikel penelitian berjudul “Living With Television: The Violence Profile”. Teori ini pada dasarnya menjelaskan bahwa orang yang menghabiskan lebih banyak waktu menonton televisi cenderung memandang dunia nyata selaras dengan gambaran yang sering muncul di layar. Dalam konteks digital, gagasan serupa dapat dipakai untuk memahami bahwa semakin sering seseorang terpapar informasi di media sosial, semakin besar kemungkinan ia memandang realitas sesuai informasi tersebut.

Akibatnya, gambaran kehidupan ideal yang berulang-ulang muncul—disadari atau tidak—dapat terasa wajar, lalu perlahan berubah menjadi patokan. Memiliki standar dalam hidup sebenarnya hal lumrah. Masalah muncul ketika standar yang hanya menampilkan sebagian realitas dijadikan acuan umum, sementara perbedaan latar belakang, lingkungan, dan kapasitas tiap orang diabaikan. Di titik ini, penilaian bisa menjadi tidak realistis dan mendorong cara berpikir yang keliru.

Salah satu bentuk kekeliruan yang dapat menguat di ruang digital adalah survivorship bias. Bias ini terjadi ketika perhatian hanya tertuju pada kisah sukses, sementara kegagalan yang tidak terlihat atau jarang dibicarakan diabaikan. Misalnya, banyak konten menonjolkan pengusaha muda yang berhasil, sehingga muncul anggapan bahwa mengikuti langkah yang sama otomatis berujung sukses. Padahal, ada pula mereka yang gagal dan mengalami kerugian besar, tetapi kisahnya tidak mendapat sorotan serupa.

Ketika survivorship bias memengaruhi cara pandang, pengambilan keputusan berisiko menjadi terburu-buru dan kurang mempertimbangkan kemampuan diri serta kemungkinan gagal. Ketidaksiapan menghadapi risiko dapat menjerumuskan seseorang pada keputusan yang tidak bijaksana, hingga meningkatkan peluang mengalami kegagalan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pemahaman bahwa standar internet dapat mengarahkan pada kesalahan berpikir dapat membantu seseorang lebih cermat menyaring informasi. Media sosial tidak selalu menampilkan realitas secara utuh; yang terlihat sering kali hanya sebagian dari proses panjang. Karena itu, penting untuk mengenali kemampuan dan kapasitas diri agar dapat memilah mana target yang realistis dan mana yang tidak sesuai kondisi.

Selain itu, tidak semua standar atau tuntutan sosial harus dipenuhi. Memahami realitas dan konteks pribadi menjadi langkah penting agar seseorang tidak terjebak dalam patokan yang tidak relevan dengan situasinya.

Pada akhirnya, standar hidup dapat menjadi alat untuk menentukan arah dan mendorong perkembangan diri. Namun standar juga bersifat kontekstual dan tidak bisa digeneralisasi. Pengalaman hidup, kemampuan individu, serta kondisi lingkungan perlu menjadi pertimbangan dalam menetapkan target. Dengan standar yang lebih realistis, proses pencapaiannya pun dapat direncanakan secara lebih jelas dan masuk akal.