BERITA TERKINI
Singapura Alokasikan Lebih dari US$100 Juta untuk Riset Maritim dalam Lima Tahun

Singapura Alokasikan Lebih dari US$100 Juta untuk Riset Maritim dalam Lima Tahun

Pemerintah Singapura menyiapkan investasi lebih dari 100 juta dolar AS dalam lima tahun ke depan untuk mendukung riset dan pengembangan sektor maritim. Rencana pendanaan ini disampaikan oleh Jeffrey Siow saat pembukaan Singapore Maritime Week pada 21 April 2026.

Investasi tersebut menjadi bagian dari peta jalan terbaru yang ditujukan untuk mendorong inovasi, termasuk pengembangan operasi pelabuhan otonom, penggunaan bahan bakar alternatif, serta teknologi kapal pintar. Maritime and Port Authority of Singapore (MPA) menyatakan roadmap ini menekankan penerapan hasil riset agar dapat diwujudkan menjadi solusi nyata di lapangan.

Singapore Maritime Week sendiri berlangsung pada 20–24 April di Suntec Singapore Convention and Exhibition Centre. Agenda tahunan itu diikuti lebih dari 20.000 peserta dari hampir 80 negara, mencerminkan besarnya perhatian internasional terhadap isu-isu maritim dan pelayaran.

Menurut MPA, fokus peta jalan terbaru mencakup pengembangan teknologi digital, dekarbonisasi yang bersifat praktis, serta integrasi sistem pelabuhan dan pelayaran. Blueprint tersebut juga menyoroti tantangan struktural, seperti kebutuhan tenaga kerja dan keterbatasan ruang baik di darat maupun di laut.

Investasi baru ini menambah lebih dari 500 juta dolar AS yang telah digelontorkan Singapura untuk riset maritim selama dua dekade terakhir. Langkah tersebut disebut memperkuat posisi Singapura sebagai salah satu pusat inovasi maritim global.

Dalam kesempatan yang sama, MPA memperkenalkan platform digital OCEANS-X yang dirancang untuk memungkinkan pertukaran data antara regulator, operator pelabuhan, perusahaan pelayaran, serta mitra internasional. Platform ini menyediakan lebih dari 100 dataset yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat proses administrasi pelabuhan, dan memperkuat konektivitas global melalui sistem digital terintegrasi.

Di tengah tantangan seperti ancaman siber, lambatnya adopsi kecerdasan buatan, serta transisi bahan bakar alternatif yang belum merata, kolaborasi internasional dinilai menjadi faktor penting. International Maritime Organization (IMO) disebut memiliki peran dalam memperkuat regulasi global, sementara pelaku industri didorong mempercepat inovasi untuk menjaga keberlanjutan dan ketahanan sektor maritim.