Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur vital distribusi energi dunia. Sekitar 25 persen pasokan minyak bumi global melintasi perairan sempit tersebut, sehingga setiap gangguan kerap memicu kekhawatiran lonjakan harga bahan bakar.
Namun, di balik perannya sebagai “keran” energi, Selat Hormuz juga menyimpan kerentanan lain yang dinilai lebih mendasar bagi kehidupan modern: keberadaan kabel fiber optik bawah laut yang menjadi tulang punggung internet global. Jika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya berupa perlambatan komunikasi, melainkan potensi kelumpuhan aktivitas digital lintas negara.
Dalam konteks geopolitik Timur Tengah yang memanas, ancaman terhadap infrastruktur bawah laut disebut bukan lagi sekadar skenario fiksi. Data dari International Cable Protection Committee (ICPC) dan lembaga riset TeleGeography menegaskan bahwa lebih dari 97 persen lalu lintas data antarbenua mengandalkan kabel bawah laut, bukan satelit.
Di kawasan Selat Hormuz terdapat belasan sistem kabel laut utama. Di antaranya EPEG (Europe-Persia Express Gateway), sistem sepanjang sekitar 25.000 kilometer yang menghubungkan Eropa dan Asia, serta sistem kabel OMRAN yang menghubungkan Oman dan Iran.
Gangguan di jalur ini diperkirakan dapat mempertaruhkan sekitar 30 hingga 40 persen lalu lintas internet global. Risiko kerusakan dapat muncul dari berbagai sebab, mulai dari jangkar kapal, serangan siber, hingga sabotase fisik di tengah konflik. Dampaknya dinilai berpotensi melampaui krisis energi, mengingat peran internet dalam hampir seluruh sektor ekonomi dan layanan publik.
Selat Hormuz juga memiliki karakter geografis yang memperbesar kerentanan tersebut. Titik tersempitnya hanya sekitar 33 kilometer, sehingga kabel-kabel data melintasi koridor yang relatif sempit. Kondisi ini menegaskan bahwa internet bukanlah entitas abstrak di “awan” semata, melainkan infrastruktur fisik yang dapat terganggu.
Salah satu konsekuensi yang disorot adalah potensi terhentinya transmisi data keuangan internasional bernilai triliunan dolar AS setiap hari apabila konektivitas lintas benua terganggu. Dalam situasi seperti itu, gangguan pada kabel bawah laut di Selat Hormuz dapat berimbas luas pada stabilitas komunikasi dan aktivitas ekonomi global.