BERITA TERKINI
Rancangan Aplikasi Monitoring TPQ Berbasis Android Ditawarkan untuk Perkuat Keterlibatan Orang Tua

Rancangan Aplikasi Monitoring TPQ Berbasis Android Ditawarkan untuk Perkuat Keterlibatan Orang Tua

Garut, 25 April 2026 — Keterlibatan orang tua dalam pendidikan nonformal masih menjadi tantangan di sejumlah lembaga. Di TPQ Az Zahra, misalnya, hanya sekitar separuh orang tua yang rutin hadir dalam evaluasi pembelajaran anak. Kondisi ini berdampak pada kesinambungan pembinaan di rumah, sementara orang tua kerap hanya menerima hasil tanpa mengikuti proses belajar anak.

Persoalan tersebut tidak selalu berkaitan dengan kemauan. Banyak orang tua memiliki keterbatasan waktu karena pekerjaan dan aktivitas harian yang padat. Di sisi lain, pola komunikasi yang berjalan masih bertumpu pada pertemuan tatap muka dan penyampaian informasi yang tidak selalu menjangkau semua pihak.

Situasi itu menjadi latar bagi dokumen Monitoring dan Evaluasi (Monev) internal berjudul “Analisis dan Perancangan UI UX Aplikasi Monitoring Orang Tua TPQ Azzahra Berbasis Android dengan Metode User Centered Design (UCD)”, karya Alia Fadhilatun Nisa di bawah bimbingan Hilmi D. Haq, dengan penanggung jawab program Anna Rahmaniyah. Kegiatan ini diselenggarakan Departemen Pendidikan Kader DPP ABI yang dipimpin Ustadz Muhammad Jawad.

Alih-alih berhenti pada pemetaan masalah, kajian tersebut mengusulkan solusi berupa rancangan aplikasi monitoring orang tua berbasis Android. Perancangannya menggunakan metode User Centered Design (UCD), yang menempatkan kebutuhan pengguna—orang tua dan pengajar—sebagai dasar pengembangan, bukan semata asumsi teknis.

Dalam rancangan itu, orang tua dapat memantau perkembangan akademik dan karakter anak secara real time, menerima pengumuman, melihat jadwal, serta berkomunikasi langsung dengan pengajar. Tersedia pula ruang diskusi daring yang memungkinkan interaksi tanpa harus bertemu secara langsung. Dengan demikian, fungsi pemantauan yang sebelumnya bergantung pada kehadiran fisik diarahkan ke ruang digital yang lebih fleksibel.

Dari sisi tampilan, rancangan aplikasi menekankan kesederhanaan. Diagram sistem pada halaman 12 menunjukkan alur interaksi yang terstruktur, sementara wireframe pada halaman 13 hingga 23 menampilkan susunan fitur yang langsung ke inti—mulai dari login, dashboard, monitoring, hingga diskusi—tanpa banyak distraksi. Pendekatan ini dipandang penting karena banyak aplikasi pendidikan dinilai kurang efektif akibat kompleksitas penggunaan.

Metode UCD dalam penelitian tersebut melibatkan pengguna sejak awal melalui tahapan seperti perencanaan, identifikasi konteks pengguna, hingga evaluasi. Dengan cara ini, desain tidak ditentukan sepihak oleh pengembang, melainkan mengikuti kebutuhan dan kebiasaan pengguna.

Untuk menilai kelayakan rancangan, pengujian menggunakan System Usability Scale (SUS) dilakukan terhadap 20 responden. Skor rata-rata yang diperoleh adalah 79 dan masuk kategori acceptable. Artinya, rancangan aplikasi dinilai sudah dapat digunakan dengan baik, meski belum sepenuhnya optimal.

Data pada halaman 33 juga menunjukkan pengalaman pengguna yang belum merata: sebagian merasa aplikasi mudah digunakan, sementara sebagian lainnya masih memerlukan penyesuaian. Temuan ini dicatat sebagai hal yang wajar untuk sistem yang masih berada dalam tahap pengembangan.

Lebih luas, kajian tersebut menyoroti kebutuhan penyesuaian pendidikan terhadap perubahan gaya hidup. Ketika waktu semakin terbatas dan interaksi langsung berkurang, sistem yang fleksibel menjadi kebutuhan. Dalam konteks itu, aplikasi diposisikan sebagai penghubung antara rumah dan ruang belajar.

Rancangan aplikasi ini mengusulkan bahwa ketidakhadiran orang tua tidak harus berujung pada keterputusan komunikasi. Keterlibatan dapat dibangun melalui cara yang berbeda—tidak selalu lewat pertemuan, tetapi melalui sistem yang menjaga arus informasi dan interaksi tetap berjalan.