BERITA TERKINI
Program Kampung Internet di Desa Setanggor Perkuat Pariwisata, UMKM, dan Akses Pendidikan

Program Kampung Internet di Desa Setanggor Perkuat Pariwisata, UMKM, dan Akses Pendidikan

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mempercepat transformasi digital di desa lewat Program Kampung Internet. Di Desa Setanggor, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), program ini dinilai mendorong perkembangan pariwisata, memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.

Pelaksanaan Program Kampung Internet dilakukan dengan penyediaan infrastruktur internet yang stabil dan terjangkau, disertai pelatihan pemanfaatan teknologi digital. Upaya tersebut mendorong warga lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan berdampak pada peningkatan produktivitas ekonomi, terutama melalui pemasaran produk secara daring.

Kepala Desa Setanggor, Kamarudin, menyebut program ini sebagai salah satu pendorong transformasi ekonomi desa. Menurutnya, kehadiran jaringan internet membuka peluang promosi yang lebih luas, terutama untuk mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Dengan kehadiran Komdigi, selama delapan bulan ini sudah ada perkembangan. Hal ini terlihat dari beberapa iven bazar kuliner yang digelar ramai pengunjung dari luar. Hal ini tidak terlepas dari jaringan internet yang telah tersedia,” ujar Kamarudin di Kantor Desa Setanggor, Rabu (22/4/2026).

Ia menambahkan, produk unggulan desa seperti kerajinan tangan dan kuliner khas kini semakin dikenal hingga ke luar daerah. Di sisi transaksi, penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) juga mulai diterapkan untuk mempermudah wisatawan bertransaksi.

Dampak program turut dirasakan pelaku UMKM. Isnawati (31), warga yang menjalankan usaha di Desa Setanggor, menyampaikan bahwa layanan internet yang lebih stabil dan ekonomis membantu meningkatkan omzet harian melalui promosi online serta kemudahan transaksi digital. Ia mengatakan akses internet juga mendukung kebutuhan pendidikan anggota keluarga dan aktivitas pembuatan konten di media sosial.

Menurut Isnawati, situasi ini lebih baik dibanding sebelumnya ketika masih bergantung pada voucer internet dengan biaya tinggi dan koneksi yang tidak stabil. Ia berharap Program Kampung Internet dapat berlanjut dengan skema biaya terjangkau agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas dan berkelanjutan.

Selain sektor ekonomi, program ini juga berdampak pada pendidikan. Guru dan pelajar di Desa Setanggor kini memiliki akses lebih luas terhadap sumber belajar daring, mulai dari materi pembelajaran, kelas virtual, hingga informasi beasiswa.

Guru Matematika SMPN 4 Praya Barat, Nurahid, menyampaikan bahwa internet membantu kelancaran proses belajar mengajar, termasuk pelaksanaan ujian berbasis digital. “Penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk SMK kemarin cukup lancar di sekolah ini,” ujarnya.

Nurahid menambahkan, akses internet memudahkan siswa memperoleh referensi tambahan di luar buku pelajaran. Ia menjelaskan bahwa siswa tidak diperbolehkan membawa telepon genggam ke sekolah, namun setelah pulang mereka memanfaatkan jaringan internet di sekolah.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, Alfreno Kautsar Ramadhan, menegaskan Program Kampung Internet dirancang untuk memastikan akses digital yang merata, mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi, serta menjaga ruang digital yang aman.

“Fokus titik aksesnya (pinpoint) adalah pada UMKM, rumah tangga, dan fasilitas umum di desa-desa yang memiliki kapasitas untuk penarikan kabel fiber optik,” ujar Alfreno.

Menurutnya, selain membangun infrastruktur, Kemkomdigi juga menitikberatkan pemberdayaan sumber daya manusia melalui pelatihan teknis dan penyerapan tenaga kerja lokal di sektor telekomunikasi. Salah satu skemanya melalui Telcohub yang menjadi wadah penyerapan tenaga kerja bagi peserta pelatihan, sehingga teknisi yang direkrut penyedia layanan internet (ISP) berasal dari masyarakat setempat.

Melalui kolaborasi dengan penyedia layanan internet, pemerintah menargetkan konektivitas yang tidak hanya memperluas jangkauan jaringan, tetapi juga meningkatkan literasi digital dan kemandirian masyarakat desa.

Alfreno menyebutkan, pada 2025 Program Kampung Internet telah membangun 1.282 titik akses yang tersebar di 22 desa, 10 kabupaten, 15 kecamatan, dan 6 provinsi, termasuk NTB. Program tersebut juga sejalan dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yang menargetkan penetrasi broadband rumah tangga mencapai 50 persen, jaringan fiber optik menjangkau 90 persen kecamatan, serta kecepatan layanan internet hingga 100 Mbps pada 2029.