Agentic AI belakangan menjadi perbincangan di industri kecerdasan buatan. Sejumlah perusahaan AI seperti OpenAI dan Anthropic disebut berlomba menghadirkan layanan agen AI, termasuk untuk membantu pekerjaan seperti coding hingga menemukan celah keamanan penting di perusahaan.
Gavin Barfield, VP & CTO Solution Salesforce ASEAN, menilai agentic AI bukan sekadar kelanjutan dari teknologi sebelumnya, melainkan perubahan besar yang dapat menggeser cara perusahaan beroperasi dan berinteraksi dengan pelanggan. Menurutnya, perbedaan utama agentic AI terletak pada kemampuannya yang tidak hanya menghasilkan konten, tetapi juga mengambil tindakan secara mandiri dalam proses bisnis.
“Saya kira agentic AI bukan evolusi, ini adalah revolusi teknologi. Bila kita melihat ke masa depan, AI dan agentik AI akan mengubah segalanya, mulai dari bagaimana kita berinteraksi dengan pelanggan, hingga kehidupan kita sehari-hari,” kata Barfield dalam media briefing Agentforce World Tour Jakarta 2026 di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).
Dalam pemaparannya, Barfield menjelaskan perkembangan AI secara umum dapat dibagi menjadi tiga fase. Fase pertama adalah predictive AI, yakni teknologi yang memanfaatkan data historis untuk memprediksi kejadian di masa depan, misalnya memproyeksikan perilaku pelanggan.
Fase kedua adalah generative AI, yang popularitasnya meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring kemunculan chatbot dan large language model (LLM). Pada tahap ini, AI mampu menghasilkan berbagai bentuk konten, mulai dari teks, gambar, hingga video.
Namun, Barfield menilai banyak implementasi generative AI masih berhenti pada tahap uji coba dan belum memberi dampak bisnis yang nyata. Ia menyebut beberapa penyebabnya, antara lain kualitas data yang belum optimal, sistem yang belum terintegrasi dalam alur kerja, serta keterbatasan AI generatif dalam mengeksekusi tugas secara langsung.
“AI generatif membantu membuat konten, tetapi belum benar-benar melakukan pekerjaan,” ujarnya.
Fase ketiga, menurut Barfield, adalah agentic AI yang tidak hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga dapat menjalankan tugas secara otomatis. Untuk menggambarkan perbedaannya, ia menggunakan analogi sistem navigasi GPS pada mobil otonom. Generative AI diibaratkan seperti GPS yang memberi petunjuk arah, sedangkan agentic AI lebih menyerupai mobil tanpa pengemudi yang mampu mengambil alih kendali dan menjalankan perjalanan secara langsung.
Salesforce, sebagai perusahaan teknologi, turut mengembangkan layanan agentic AI melalui “Agentforce”. Layanan ini disebut mengintegrasikan sejumlah komponen, mulai dari model AI (LLM), lapisan kepercayaan (trust layer), hingga sistem data dan aplikasi bisnis.
Barfield menekankan peran data sebagai fondasi penting bagi agen AI. Menurutnya, tanpa data yang akurat dan relevan, AI tidak dapat menghasilkan keluaran yang optimal.