BERITA TERKINI
Pendidikan Etika Lingkungan Didorong Holistik, dari Nilai Spiritual hingga Pemanfaatan Teknologi

Pendidikan Etika Lingkungan Didorong Holistik, dari Nilai Spiritual hingga Pemanfaatan Teknologi

Pendidikan etika lingkungan dinilai perlu dirancang secara holistik, tidak hanya menekankan pengetahuan (kognitif), tetapi juga menyentuh dimensi spiritual, sosial-budaya, ekonomi, politik, dan teknologi. Prof. Dr. Dewi Elfidasari, S.Si., M.Si., Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Al-Azhar Indonesia, menekankan bahwa pendekatan menyeluruh ini penting agar kesadaran dan perilaku menjaga lingkungan dapat terbentuk secara berkelanjutan.

Dalam aspek spiritual, lingkungan dipandang sebagai karunia Sang Maha Pencipta yang diamanahkan kepada manusia. Nilai tersebut diperkuat melalui pendekatan sosial dan budaya, termasuk pengintegrasian kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan ekologis. Sementara itu, pendidikan etika lingkungan juga perlu menjangkau aspek ekonomi, politik, dan teknologi, antara lain melalui pengenalan konsep ekonomi hijau, pemahaman hak atas lingkungan yang bersih, serta pemanfaatan inovasi ramah lingkungan seperti energi terbarukan.

Untuk mengubah nilai menjadi tindakan nyata, terdapat lima strategi implementasi yang disoroti. Pertama, integrasi dalam kurikulum dengan menyisipkan tema atau nilai lingkungan ke dalam mata pelajaran di sekolah maupun mata kuliah di perguruan tinggi. Upaya ini diarahkan agar peserta didik memiliki pemahaman yang menyeluruh dan dapat menerapkannya melalui kegiatan kolaboratif, seperti penanaman pohon atau pembentukan klub lingkungan.

Kedua, kegiatan praktis dan lapangan yang menempatkan pengalaman langsung sebagai bagian dari proses belajar, misalnya melalui kunjungan ke kawasan konservasi, aksi bersih sungai, atau praktik pembuatan kompos. Ketiga, pendekatan interaktif yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif lewat dialog, diskusi, dan simulasi untuk menganalisis persoalan lingkungan yang kompleks serta merumuskan solusi kreatif.

Keempat, kolaborasi dengan komunitas melalui kerja sama antara institusi pendidikan dan masyarakat setempat. Contoh program yang disebutkan meliputi pelatihan daur ulang sampah, pengenalan teknologi biogas, hingga edukasi pengurangan plastik di tingkat RT/RW. Kelima, pemanfaatan teknologi dan media dengan menggunakan platform daring, aplikasi edukasi, dan kampanye digital agar pesan konservasi lebih menarik serta mudah diakses, termasuk melalui virtual field trip atau simulasi perubahan iklim.

Dalam pandangan penulis, pendidikan etika lingkungan tidak dapat dibebankan pada satu pihak. Keterlibatan luas diperlukan, mulai dari keluarga—termasuk peran ibu—anak usia dini, institusi pendidikan, pelaku usaha, hingga pejabat pembuat kebijakan. Sinergi berbagai komponen ini dipandang menentukan keberhasilan pembentukan budaya keberlanjutan lingkungan.

Prof. Dewi juga memaparkan sejumlah langkah yang disebut telah dijalankan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) dalam menerapkan strategi holistik tersebut. Melalui Program Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam (MPSDA UAI), UAI mengintegrasikan aspek kognitif dengan nilai-nilai spiritual keislaman, dengan penekanan bahwa menjaga alam merupakan amanah ibadah kepada Sang Pencipta.

Dari sisi teknologi, UAI mengembangkan sistem proteksi ekosistem terintegrasi berbasis ICT yang disebut sebagai Digital Guardian of Leuser. Inisiatif ini memanfaatkan sensor IoT dan teknologi digital untuk melindungi ekosistem kritis serta memitigasi kerusakan alam secara real-time.

UAI juga menjalankan program lapangan dan kolaborasi komunitas melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Mahasiswa dilibatkan dalam proyek seperti edukasi pengelolaan sampah mandiri, program bioprospektif untuk ketahanan pangan lokal, hingga pendampingan masyarakat dalam menghadapi bencana ekologis. Selain itu, pengembangan kurikulum pada sejumlah program studi—seperti Sistem Informasi, Teknik, dan Gizi—didorong agar memiliki perspektif lingkungan, sehingga lulusan disiapkan untuk merumuskan kebijakan hijau dan mengambil keputusan yang berpihak pada keberlanjutan.

Kesimpulannya, pendidikan etika lingkungan diposisikan sebagai proses transformasi karakter yang mencakup aspek kognitif, afektif, hingga spiritual. Dengan strategi yang tepat—mulai dari integrasi kurikulum, aksi nyata di lapangan, hingga pemanfaatan teknologi digital—nilai-nilai etis diharapkan dapat diwujudkan menjadi tindakan yang berdampak. Namun, upaya tersebut menuntut tanggung jawab kolektif lintas lapisan masyarakat sebagai investasi jangka panjang untuk memastikan bumi tetap lestari bagi generasi mendatang.